Jumat, 14 November 2008

INJIL TOMAS, INJIL KELIMA?

Oleh Vico SJ


Kita telah mendengar bahwa banyak bermunculan tulisan-tulisan mengenai Yesus di luar Injil-injil Kanon, yang menamakan diri Injil. Sebutlah beberapa di antara mereka adalah Injil Tomas, Injil Maria, Injil Petrus, Injil Yudas, Proto-Injil yakobus, Injil Filipus, Injil Masa Kanak-kanak menurut Tomas, dan masih banyak lagi. Injil-injil ini atau lebih tepatnya tulisan-tulisan ini biasa disebut ‘apokrifa’ yang dalam bahasa Yunani berarti yang disembunyikan (hidden things). Mengapa disembunyikan? Jawaban yang mendekati kemungkinan pasti adalah tentu saja berisi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan iman jemaat Kristiani saat itu, bahkan juga saat ini. Lalu, mengapa tulisan-tulisan itu muncul? Beberapa alasan yang mungkin adalah bahwa tujuan kehadiran tulisan-tulisan ini adalah untuk melengkapi bagian Keempat Injil kita yang kiranya masih tersembunyi bagi kita, seperti misal kisah kanak-kanak Yesus mulai umur 12 hingga 30 tahun, identitas Maria Ibu Yesus, proses kelahiran Yesus, Yesus ketika wafat di dalam kubur. Alasan lain yang mungkin adalah untuk menggeser kedudukan Injil-injil Kanon dengan menawarkan tokoh Yesus secara berbeda.
Kehadiran mereka cukup merepotkan para Bapa Gereja saat itu seperti St. Ireneus dari Lyon (±115- …) yang telah mengeluarkan buku khusus untuk melawan gnostisisme, yaitu Adversus Haereses (Melawan Heresi), St. Origenes dari Alexandria dengan bukunya Commentary on the Gospel of Matthew (Komentar tentang Injil Matius), St. Eusebius dari Kaesarea, dan St. Atanasius di mana tiga tokoh terakhir ini hidup di abad ketiga dan keempat masehi. Mengapa para Bapa Gereja ini begitu gigih melawan tulisan-tulisan tersebut. Salah satu alasannya adalah bahwa tulisan-tulisan tersebut mengandung ciri gnosis. Lalu, apa itu gnosis? Gnosis dalam bahasa Yunani berarti pengetahuan (knowledge). Aliran gnosis, yaitu gnostisisme mempercayai pandangan tentang dunia sebagai tempat yang jahat yang diciptakan Tuhan yang jahat, yang berbeda dari Tuhan yang benar dan berbeda. Pengikut Gnostik Kristen ini menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang maha esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini, Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia ini kepada para pengikut Gnosis agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar. Mereka percaya bahwa sekelompok orang tertentu menerima pengetahuan yang pasti, mutlak, personal, dan menjamin keselamatan. Jadi keselamatan hanya bagi mereka yang ‘terpilih’, yang merupakan kalangan terbatas, “orang dalam” sendiri.
Lalu bagaimana dengan Injil Tomas, kegelisahan apa yang dialami Bapa-bapa Gereja saat itu berhadapan dengan tulisan ini? Baiklah kita sedikit menilik ciri-ciri dari Injil ini. Injil Tomas ini terdiri dari 114 perkataan-perkataan rahasia Yesus yang hidup dan ditulis oleh Didimus Yudas Tomas yang diyakini saudara Yesus. Hampir setiap perkataan diawali dengan Yesus berkata,” … Ada beberapa model perkataan yang terdapat dalam tulisan tersebut seperti kata-kata bijak (petuah), perumpamaan, perkataan eskatologis (nubuat), dan peraturan bagi komunitas. Ada sekitar 68 perkataan dalam Injil Tomas yang paralel dengan Injil-injil Kanon. Ada kesan kuat bahwa penulis Injil ini mengutip beberapa perikop dalam Injil-injil Kanon secara eklektik dan dimasukkan ke dalam tulisannya. Karena tulisan ini berupa kumpulan perkataan Yesus, hidup Yesus, karya-karya, sengsara, wafat, dan kebangkitanNya tidak mendapatkan tempat. Yang menjadi tekanan di sini adalah perkataan-perkataan Yesus yang membawa keselamatan. Perlu diketahui pula bahwa Injil ini ditulis sekitar abad kedua setelah masehi.
Berdasarkan keterangan singkat tentang Injil Tomas tersebut, baiklah kita lihat apa yang dikatakan St. Origenes dalam salah satu homilinya tentang Lukas 1:1(menurut terjemahan bahasa Latin Jerome)

“…Gereja memiliki empat Injil, sedangkan tulisan-tulisan heresy begitu banyak, yang salah satunya berjudul ‘Injil menurut Orang Mesir’ dan yang lainnya ‘Injil menurut Dua Belas Rasul’. Basilides juga berusaha menulis sebuah injil dan menyebutnya dengan namanya sendiri. ‘Banyak tangan’ telah menulis, tetapi hanya empat Inil yang diakui. Dari keempat Injil inilah doktrin tentang pribadi Tuhan dan Penyelamat kita telah diturunkan. Saya mengetahui sebuah Injil yang disebut ‘Injil menurut Tomas’ dan sebuah ‘Injil menurut Matias’ dan banyak tulisan-tulisan yang telah kami baca-yang kami anjurkan untuk dilupakan saja karena bagi mereka yang membayangkan bahwa mereka memiliki beberapa pengetahuan akan diperkenalkan dengan hal-hal ini. Namun, di antara semua hal yang telah kami buktikan secara lembut apa yang telah diakui Gereja yang hanya merupakan empat Injil haruslah diterima.”

Di dalam teks itu terlihat bahwa St. Origenes menekankan hanya ada empat Injil yang diakui oleh Gereja dan yang harus kita terima, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Selebihnya adalah heresy. Kekuatiran St. Origenes, khususnya terhadap Injil Tomas dan Injil Matias, adalah bahwa injil itu akan menarik mereka yang membayangkan telah memiliki beberapa pengetahuan dan mengambil injil itu menjadi injil utama mereka, menggantikan keempat Injil yang telah diakui oleh Gereja. Oleh karena itu, injil-injil itu sebaiknya dilupakan saja.
St. Eusebius dari Kaesarea juga dengan lebih keras memberi komentar atas injil-injil heretik yang mengambil nama para Rasul sebagai judul tulisan-tulisan mereka, seperti misal Injil Petrus dan Tomas dan Matias, atau Kisah Andreas dan Kisah Yohanes:

“Tidak ada penulis gerejawi dalam tradisi pernah mempertimbangkan tulisan-tulisan ini dalam karya-karyanya sebagai yang layak disebutkan. Lebih jauh lagi ciri khas bahasa mereka berbeda dengan ciri khas penggunaan bahasa dalam tulisan-tulisan apostolik, dan pemikiran dan tujuan yang terungkap di dalam tulisan-tulisan mereka, dalam derajat yang tinggi berlawanan dengan ortodoksi sejati, menunjukkan dengan jelas bahwa tulisan-tulisan itu, kami telah mendapatkan, merupakan buatan kaum heretik.”

Dengan demikian jelaslah bagi kita sikap yang diambil oleh St. Origenes dan St. Eusebius terhadap tulisan-tulisan heretik itu, khususnya Injil Tomas, yaitu menolak dengan tegas kehadiran tulisan-tulisan tersebut dan lebih menekankan keempat Injil yang telah diakui oleh Gereja.
Lalu pertanyaan selanjutnya, bagian teks mana saja yang mencerminkan secara kuat unsur gnostik dalam perkataan Yesus? Kita bisa melihatnya dalam bagian awal teks injil ini:”Inilah ucapan-ucapan rahasia yang diucapkan Yesus yang hidup dan yang ditulis oleh Didimus Yudas Tomas”, dan “Dan Dia berkata,”Barangsiapa menemukan tafsiran atas sabda-sabda ini tidak akan mengalami kematian” (Sabda 1). Kalimat pertama jelas diperuntukkan untuk Tomas saja dan kalimat kedua bagi mereka yang memang terpilih masuk dalam kalangan terbatas sajalah yang mampu menafsirkan sabda-sabda tersebut. Penekanan hanya pada sabda-sabda Yesus yang hidup yang membawa pada kehidupan (keselamatan) inilah yang merupakan ciri gnostik . Nampak di sini pengetahuan akan sabdalah yang menyelamatkan bukan wafat, salib dan kebangkitan Yesus Kristus yang menyelamatkan. Hal ini bagi iman kita tentu sangat membahayakan karena hanya melalui penderitaan, wafat, dan kebangkitan Kristuslah kita diselamatkan dari maut bukan melulu melalui sabda-sabda Yesus.
Kita bisa melihat pula keganjilan dalam injil ini dalam sabda 62:

Yesus berkata,”Bagi mereka [yang layak] menerima misteri-misteriKulah yang akan Kuberi tahu misteri-misteriku. Jangan biarkan tangan kirimu tahu apa yg diperbuat tangan kananmu.”

Keselamatan yang tertuang dalam wahyu rahasia Yesus menurut sabda ini adalah keselamatan yang bersifat eksklusif, diperuntukkan hanya bagi sekelompok elite saja. Padahal salah satu unsur diterima dalam kanon-kanon Kitab Suci adalah unsur katolisiti-nya, yaitu keterbukaan dan universal yang ditawarkan termasuk keselamatan pada siapa saja yang percaya kepada Kristus.
Hal lain yang bagi saya sangat kontroversial adalah sabda terakhir:
Simon Petrus berkata kepada mereka,”Biarlah Maria meninggalkan kita, karena perempuan tidak layak hidup.” Yesus berkata,”Aku sendiri yang akan menuntunnya untuk membuatnya menjadi laki-laki sehingga dia juga bisa menjadi roh yang hidup menyerupai engkau, laki-laki. Karena setiap perempuan yang akan membuat dirinya laki-laki akan masuk kerajaan surga.”

Sabda ini jelas sekali bernafaskan gnostik, dimana kaum perempuan dianggap lebih terpenjara jiwanya dan lebih rendah dari pria. Sabda ini jelas bertentangan dengan awal penciptaan laki-laki dan perempuan yang berkedudukan setara dan secitra dengan Allah.
Ada beberapa motivasi yang sama dalam tulisan itu yang menggambarkan bahwa para pengikut gnostik merupakan umat pilihan, minoritas elite. Hal tersebut dapat kita lihat dalam beberapa sabda berikut ini:

"Nelayan yang bijak memilih ikan besar dari tangkapannya." (sabda 8)
"Biji Gandum akan menghasilkan sebuah tumbuhan yang besar." (Sabda 20)
"Peremupuan membuat roti yang besar dari ragi." (Sabda 96)
"Salah satu dari domba yang besar itu tersesat." (sabda 107)

Kata besar menunjukkan bahwa para pengikut Gnostik adalah pilihan Tuhan yang esa, hanya saja mereka tersesat di dunia dan mereka harus kembali.
Demikianlah uraian di atas telah berusaha menjelaskan panjang lebar disertai dengan bukti-bukti yang telah saya sebutkan bahwa Injil Tomas tetap tidak layak menjadi injil kelima karena pertama, di dalamnya sarat dengan unsur gnostik yang bertentangan dengan iman kita. Kedua, karena penekanan injil ini hanya pada sabda-sabda Yesus saja, injil ini tidak memadai untuk menjadi pegangan hidup kita. Mengapa? Karena hanya dalam peristiwa wafat, salib, dan kebangkitan Yesuslah kita diselamatkan dan diangkat menjadi anak-anak Allah dan beroleh persatuan dengan Allah. Ketiga, keselamatan yang ditawarkan pun hanya sebatas pada sekelompok kecil orang saja, dan bukan diperuntukkan bagi banyak orang. Padahal kedatangan Allah di dunia dalam diri Yesus adalah karena Dia mengasihi kita semua sebagai manusia. Keselamatan yang ditawarkanNya adalah bagi kita semua tidak hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil manusia saja. Keempat, kita juga perlu sadar bahwa beberapa rasul dan saksi mata saat penyusunan kanon Kitab Suci Perjanjian Baru masih hidup. Dan mereka pasti mempunyai alasan yang kuat untuk memilih dan mengetahui tulisan-tulisan mana yang dapat disebut kitab Injil dan mana yang tidak diakui sebagai injil.

Sumber Acuan:
Indonesia, Lembaga Alkitab. 1994. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
Koester, Helmut. 1988. “The Gospel of Thomas,” dalam Robinson, The Nag Hammadi Library in English. San Fransisco: Harper & Row.
Ramadhani, Deshi. 2007. Menguak Injil-Injil Rahasia. Yogyakarta: Kanisius.
Robinson James M., ed. 1988. The Nag Hammadi Library in English. Rev. Ed. San Fransisco: Harper & Row.
Schneemelcher, W., ed. 1991. New Testamen Apocrypha. Vol 1. Louisville, Kentucky: Westminster/John
Knox Press.


Tidak ada komentar: