Selasa, 06 April 2010

KONSILI VATIKAN 1

Konsili Vatikan I (selanjutnya disingkat KV I) ini diselenggarakan pada tahun 1869-1870 oleh prakarsa Paus Pius IX tanpa pernah ditutup karena pasukan Italia menyerbu Vatikan dan menahan para konsiliaris ketika konsili sedang berlangsung. Konteks yang melatarbelakangi konsili ini, pertama adalah konservatisme yang diusung oleh Felix S. Silvany, seorang imam diosesan Spanyol. Paham konservatisme ini masih dekat dengan paham ultramontanisme yang menekankan bahwa segala sesuatu atau semua kekuasaan dipusatkan pada Sri Paus. Ia menerbitkan buku “Liberalism as a sin” yang isinya menentang paham liberalisme yang menekankan secara berlebihan kebebasan manusia. Pertanyaan selanjutnya adalah mana yang harus diikuti konservatisme atau liberalisme. Kedua, munculnya bulla “In effabilis Deus” (8 Desember 1854) yang menegaskan bahwa Gereja sebagai bunda ditengarai memperoleh insipirasi dari Allah sendiri. Ketiga, munculnya “the Question of Rome” (selanjutnya disingkat QR) dan “tahanan vatikan”. Isi dari QR adalah suatu persaingan antara nasionalisme Italia yang ingin membangun negara secara independen dengan Roma sebagai negara kepausan. Di sini terjadi perebutan wilayah yang dimenangkan oleh Italia. Italia waktu itu dipimpin oleh Raja Victor Emmanuel II, dibantu oleh Cavour dan Garibaldi berhasil menahan para konsiliaris di Vatikan.

Tujuan Paus menghimpun konsili ini adalah untuk memperoleh pengakuan atas sikap yang telah ditetapkannya dalam ensiklik Quanta Cura atau yang lebih dikenal Syllabus Errorum (8 Desember 1864) yang berisi kompendium 80 kesalahan utama zaman ini, seperti panteisme, naturalisme, rasionalisme, indeferentisme, liberalisme, sosialisme, yurisdiksionalisme, dlsb. Ensiklik ini juga mengutuk konsep kebebasan agama dan perpisahan Negara dan Gereja. Inti dari ensiklik ini adalah bahwa Gereja yang benar adalah Gereja Kristus yang melampaui kesalahan-kesalahan tersebut.

Hasil dari KV I adalah dua konstitusi, yakni Konstitusi Dogmatis tentang Iman Katolik (Dei Filius) yang berisikan antara lain pengakuan bahwa Allah Pencipta segala sesuatu, Wahyu, Iman, Relasi iman dan Rasio; dan Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Kristus (Pastor Aeternus) yang menguraikan keutamaan dan infalibilitas Uskup Roma ketika sedang memberikan dogma tentang iman atau moral secara resmi.

Hasil KV I, khususnya tentang infalibilitas menuai reaksi negatif pertama dari pemerintahan Italia. Pemerintahan Italia kawatir terhadap kesuperioran Paus atas negara. Dengan hasil tersebut, negara bisa disubordinasi di bawah Gereja. Oleh karena itu, ketika Perancis menarik pasukannya yang menjaga konsili karena harus berperang dengan Prusia, Italia menyerang Roma dan menahan para konsiliaris. Kedua, munculnya kelompok Altkatholiken (The Old Chatolic) di Jerman yang menolak rancangan dokumen infalibilitas. Kelompok ini akhirnya keluar dari Gereja Katolik Roma (GKR). Ketiga, Kanselir Jerman, Otto von Bismarck mengeluarkan kebijakan kulturkamptf untuk menegakkan negara sekular dan mengurangi pengaruh politis dan sosial GKR. Keempat, muncul tren menentang klerikalisme di berbagai negara yang berdasarkan paham liberalisme. Akhirnya, dampak langsung KV I adalah tenggelamnya negara kepausan di mana Sri Paus dikurung dalam urusan spiritual saja.

1 komentar:

helpersaja mengatakan...

gooood..
bagus utk pengetahuan iman katolik