Jumat, 18 Februari 2011

Bagaimana Seharusnya Kita Berbicara tentang Kristus Saat Ini?


Menyambut tahun baru 2011 ini, saya mengajak Anda semua untuk melihat kembali pengalaman perjumpaan kita dengan Yesus pribadi dalam hidup kita masing-masing. Barangkali penemuan-penemuan kita nanti akan membawa kita pada sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak kita sadari, yaitu penemuan akan Yesus yang senantiasa hadir dan membentuk hidup dan pribadi kita. Dalam penemuan itu, semoga saja, kita mampu merumuskan kembali siapa Yesus Kristus bagi diri kita pribadi saat ini. Pengenalan dan pemahaman akan Yesus Kristus yang baru ini akan menuntun kita pada cara hidup dan bertindak yang baru pula sehingga di tahun baru ini kita terus dijiwai oleh semangat Yesus Kristus yang mewahyukan diri-Nya secara pribadi kepada kita. Dengan demikian, kita bisa mewartakan Kristus dengan cara dan metode yang baru pula.

Untuk menemani peziarahan kita dalam merumuskan siapa Yesus Kristus bagi kita di tahun baru ini, saya akan menghadirkan seorang teolog pembebasan dari Meksiko yang terkenal dengan metode berteologinya, yaitu Raúl Vidales. Basis teologinya adalah teologi pembebasan yang ia pandang sebagai teologi yang mencari penjelasan makna keselamatan di dunia dari perspektif mereka yang tertindas. Persoalan pokok tentang iman, khususnya di bidang Kristologi yang hendak ia ajukan dalam kesempatan ini adalah bagaimana seharusnya kita berbicara tentang Kristus saat ini?

Kontradiksi dalam diri Yesus melahirkan manusia baru

Persoalan ini, yaitu tentang bagaimana berbicara tentang Kristus saat ini, menurut Vidales, perlu didekati dari hal-hal yang sangat sederhana dan melalui kepekaan perasaan kita ketika bersentuhan dengan pengalaman rohani kita. Di sini kita perlu akui bahwa kehadiran Kristus adalah merupakan suatu tanda pertentangan di tengah sebuah kontradiksi yang lebih luas. Ia selalu menjadi sebuah teka-teki dalam diri-Nya yang seseorang tidak mudah untuk memecahkan-Nya. Meski demikian, Ia tetap hadir secara kontekstual dalam dunia kita yang unik dan ganjil, yang sarat dengan problem modernitas, seperti kolonialisme, imperialisme, rasisme, dan semacamnya. Namun, hal yang mengejutkan adalah bahwa nampaknya ke-kontradiktorisan dalam diri-Nya justru merupakan intensional-Nya untuk menuntun manusia ke arah sebuah pola aktivitas yang baru, bangkit dari pembaharuan batiniah. Dengan demikian manusia dibaharui oleh Yesus menjadi “sesuatu yang baru”.

Untuk menjadi manusia baru perlu sikap yang selalu mengarah pada pesan Injili, yaitu iman. Iman yang dialami dalam situasi konflik, situasi pribadi yang mengalami kebutuhan yang sangat konkret, percaya dalam Kristus secara baru. Untuk keperluan itu, Vidales menskematisasi tuntutan tugas yang juga merefleksikan sebuah metodologi dalam tiga perspektif, yaitu perspektif tentang iman, teologi, dan evangelisasi.

Perspektif Iman: Pengalaman Umat Kristiani

Menurut Vidales, peristiwa inti bagi umat Kristiani yang terlibat dengan pembebasan adalah sebuah pengalaman yang baru akan Kristus. Cara baru mereka beriman dalam Yesus Kristus melibatkan sebuah cara pemahaman, penerimaan, dan perwujudan pesan-pesan Kristus yang baru pula. Hal ini bisa kita lihat dalam pertemuan dengan Kristus dalam sejarah, terutama umat Kristiani di Amerika Latin yang di saat mengalami krisis secara politis menggunakan wajah eklesial. Gereja saat itu mulai menampakkan tidak hanya kelemahannya, tetapi juga secara terbuka terlibat dengan kekuasaan yang cenderung mempertahankan sebuah kekuasaan yang tidak manusiawi karena melibatkan perbudakan seluruh orang. Ada ketegangan di sini antara menolak kekuasaan atau memilikinya. Ketegangan itu menghasilkan pengaruh yang mendalam pada gerakan-gerakan awal Gereja, yaitu tuduhan-tuduhan terhadapnya yang lama-kelamaan membatasi bentuk konkret persoalan Kristologi yang lebih dalam.

Di sini, gambaran mengenai Kristus mulai nampak seperti gambaran yang memberontak dan bernada kasar dan sulit ditemukan. Di saat seperti itulah, Gereja tidak menemukan sumber inspirasi atau orientasi mereka kepada Injil. Yesus mereka rasakan sebagai sebuah absenteisme.

Selain itu, ada juga persoalan lain yang bisa membuat lebih komplek dalam rangka mencari Kristologi yang relevan, yaitu gambaran Kristus yang reaktif, gambaran Kristus tradisional yang peradaban-Nya ke-Barat-baratan yang tidak biblis, tidak menyejarah, gambaran Kristus yang diidealkan.

Tantangan saat ini adalah bagaimana menemukan gambaran wajah Kristus yang baru. Kadang-kadang wajah Yesus mempunyai sebuah nama dan sebuah kelompok sifat yang akrab dengan kita, namun, kadang-kadang Ia tak bernama, 'nothing', rata-rata pada umumnya, orang yang termarjinalisasi, orang-orang pinggiran. Oleh karena itu, pengalaman akan wajah Kristus yang seperti inilah yang akhirnya memasuki petualangan akan Kristologi yang baru. Pengalaman rohani seperti inilah yang secara kodrat dasarnya membawa gerakan pertobatan, yang berarti membuat konkret pilihan memihak dan hidup bersama orang-orang tersingkir dalam pergulatan mereka. Iman inilah yang menjadi sebuah tindakan solider dengan mereka, tindakan protes melawan kemiskinan yang mereka hidupi, tindakan identifikasi dengan keberpihakan pada kelas yang ditindas, dan tindakan terus-terang mengadukan eksploitasi yang mengorbankan mereka. Akhirnya muncul gambaran Kristus Sang Pembebas yang nantinya diwujudkan dalam kebebasan. Di sini Kristus menampakkan diri-Nya dalam realitas keberadaan dan proses dari hati ke hati dan jerit tangis setiap orang yang tertekan dan tertindas oleh struktur. Demikianlah pengalaman personal akan Kristus merupakan kriteria discernmen yang utama dan definitif yang melampaui segala yang lain.

Perspektif Teologi

Dari perspektif teologi pembebasan sendiri, menurut Vidales, dasar Kristologi mempunyai nilai-nilai yang bertitik tolak dari suatu bagian yang panjang, kata dan praksis atas pembebasan di mana keduanya bertemu berdasarkan dialektika dalam kenyataan proses sejarah. Namun, ada beberapa persoalan yang nampaknya muncul akibat kecenderungan mereduksi teologi logos yang hanya diperuntukkan kepada dominasi kelas-kelas tradisional Kristen Barat. Mereka bahkan bisa melakukan tindakan manipulatif pemikiran tentang Tuhan bagi kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Dengan demikian teologi hanya akan menjadi sebuah teologi elit yang berpindah dari persoalan-persoalan aktual menuju bagaimana melanggengkan kekuasaan dari suatu kelompok elit tertentu dalam masyarakat.

Namun, ada beberapa keuntungan yang dapat diambil dari situasi di atas bagi perkembangan Kristologi, di antaranya adalah pertama, penekanan pada keheningan dan doa dalam membangun teologi Kristus sehingga melahirkan keterbukaan pada Kristus dan juga keterbukaan pada yang lain. Sebuah kristologi yang mempunyai kebebasan perspektif akan berangkat dari pengalaman akan Kristus yang hanya bisa dihayati dalam suatu area yang melampaui semua bahasa, yang hanya mampu bertemu dengan Sang Sabda dalam sebuah keheningan dan doa. Karena dari keheningan dan doa, Kristus mampu diwartakan dengan baik; dan keterbukaan akan Kristus memungkinkan untuk terus-menerus dilakukan dan dialami sehingga mendorong pula suatu sikap terbuka kepada yang lain. Justru dengan keterbukaan dengan yang lain itulah Kristus dapat ditemukan. Kristus juga sungguh dapat ditemukan hidup dalam tradisi dan budaya yang aktual di mana setiap orang dapat mengalaminya secara nyata, bukan lagi dalam tataran ideal atau cita-cita. Dengan demikian, teologi pembebasan menekankan tidak hanya ketokohan dan sifat Kristus dari Nazaret, melainkan sifat dari Misteri Kristus yang selalu hadir dan mengikuti ritme sejarah manusia karena ia tinggal bersama dengan mereka. Di sinilah letak kenosis-nya Yesus yang bersedia terlibat dalam kenyataan manusia dunia ini.

Kedua, dimensi politik dari kehidupan Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. Di sini, Vidales mengajak kita untuk melihat gambaran yang tepat mengenai Yesus, yaitu Sang Pembebas karena Dia secara berkesinambungan memanggil suatu perubahan yang terus-menerus menuju sebuah transformasi revolusioner di dalam manusia dan di dalam masyarakat. Di sini, Yesus menekankan suatu dimensi kenabian untuk secara jujur dan terbuka menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada dunia. Dengan demikian, figurnya sebagai seorang Pembebas menjadi sebuah kenyamanan dan harapan bagi kaum yang tak bersuara.

Ketiga, persoalan bagaimana melakukan tafsiran secara kontekstual atas Kitab Suci sehingga mampu menyumbangkan sebuah makna dan pemahaman baru dalam bidang Kristologi. Pemahaman dan pengetahuan akan pesan-pesan Yesus dalam Kitab Suci tidak bisa tidak harus ditafsirkan secara baru. Teologi Pembebasan sedang menggali jejak baru di dalam teologi hermeneutik Kitab Suci untuk mempertajam Kristologi. Di sini, teologi memang sebaiknya mampu menginterpretasikan tindakan keselamatan Allah tidak hanya dalam ranah gagasan atau pemikiran-pemikiran, melainkan berkolaborasi dengan wilayah praksis. Dengan demikian kebebasan untuk meraih akses kepada kebenaran dapat dirasakan oleh semua kalangan umat beriman.

Akhirnya, pemahaman Kristologi yang baru dengan sendirinya melahirkan sebuah eklesiologi baru. Eklesiologi baru di Amerika Latin nampak dan lebih jelas sebagai kenosis Kristus. Konkretnya sebagai sebuah Gereja kaum miskin. Menurut Vidales, kita membutuhkan Gereja yang tidak hanya mampu memegang kunci politik, sosial, budaya, ekonomi, atau setiap persoalan-persoalan etika, melainkan kita tetap membutuhkan Gereja sebagai kenosis, sebuah Gereja yang mengosongkan diri supaya mampu bersikap lepas bebas terhadap superioritas. Singkatnya kita membutuhkan gereja yang kuat, yang tidak hanya menerima sejumlah doktrin yang dipercaya atau doa-doa yang didaraskan secara berulang-ulang, melainkan Gereja yang menyerupai gambaran Kristus sendiri dalam kenosis-Nya.

Perspektif Evangelisasi

Perspektif ini memunculkan soal-soal pastoral, yaitu bagaimana kita harus memberitakan Kristus di sini dan sekarang? Pertanyaan lain yang lebih relevan adalah bagaimana kita harus berbicara tentang Kristus saat ini dari sudut pandang teori dan praksis pastoral? Ada tiga momen yang terkait secara dialektikal, yaitu praksis sebagai kesaksian, kerygma sebagai praksis, dan praksis kenabian.

Praksis sebagai Kesaksian

Pada poin ini kita, menurut Vidales, sebaiknya mulai dari pengalaman baru dari sebuah evangelisasi yang membebaskan di Amerika Latin. Evangelisasi yang membebaskan harus memeluk tidak hanya dimensi ekonomi-politik dari manusia tetapi juga totalitas kemanusiaan dan orisinalitas (keaslian) Kekristenan yang masing-masing terkait secara mendalam satu sama lain. Kandungan pemberitaan evangelisasi primordial ini adalah peristiwa radikal di mana orang-orang Kristiani dipertemukan dengan sebuah pewahyuan terus-menerus, sebuah pembebasan yang telah dicapai dan dibuktikan di jantung sejarah melalui visi iman.

Pemberitaan evangelisasi primordial ini juga membawa kegembiraan atas penemuan diri, kegembiraan atas pengalaman seseorang, kegembiraan atas pengalaman seseorang yang dicintai Allah, dan kegembiraan atas karya cinta Allah. Pemberitaan evangelisasi primordial ini bertitik tolak dari solidaritas dasar dengan kelas-kelas yang tereksploitasi sehingga di sini pemberitaan ini mempunyai dimensi politis sebagai sebuah dimensi intrinsik dari Kasih Bapa bagi seluruh umat manusia. Pemberitaan evangelisasi primordial ini menyumbangkan sebuah pengaruh politis dan kelas, langsung dan kritis, pada semua proses pembebasan-terbuka. Oleh karena itu, ia mempunyai karakter sejarah yang konfliktual. Hal ini dapat kita lihat pada tempat perwujudannya (locus of realization) secara konkret dalam situasi yang konkret pula dalam rangka option for the poor. Dalam hal ini, tempat dan situasi konkret adalah kelas-kelas (mereka) yang tereksploitasi.

Kerygma sebagai Praksis

Di sini sekali lagi ditegaskan bahwa bukan kita yang merupakan dasar "pengkotbah" atau pewarta Yesus, melainkan Yesus sendiri yang mewartakan diriNya, Roh-Nyalah yang berbicara, Kristuslah yang bekerja dan mewujudkan diri-Nya sendiri melalui sebuah "bahasa total" (total language), bekerja dan berbicara dari sebuah keterlibatan-Nya dalam sejarah dan dari sebuah kedalaman di dalam setiap umat manusia sebagaimana di dalam sebuah masyarakat. Oleh karena itu kita harus mengosongkan diri dan memurnikan diri dengan rasa hormat pada diri kita sendiri dan komitmen konkret kita dalam bentuk keheningan sikap dan tingkah laku yang total. Dengan demikian, misi dapat dilihat sebagai sebuah pelayanan, sebuah komitmen dan sebuah tanggungjawab yang diperuntukkan bagi sesama. Misi tidak hanya mengajar, melainkan sebuah kenyataan, kehadiran dan kedinamisan. Di sini pesan Injil harus dibaca dari bukti konkret dan pelayanan khusus yang dituntut oleh kehadiran Kristus di setiap umat manusia dan budaya.

Kristus adalah inti dari Kerygma Kekristenan. Oleh karena itu, menurut Vidales, kerygma ini dijaga sebagai karakter yang hakiki bukan hanya sebagai logos atau pengetahuan, tetapi juga sebagai pneuma (roh) dan kedinamisan logos. Kerygma kekristenan ini hanya bisa diwujudkan sebagai sebuah gerak dinamis yang historis atau menyejarah. Jika tidak, evangelisasi menjadi tidak berguna alias impoten karena hanya melayani kelas-kelas yang mendominasi.

Secara tradisional, ortodoksi pesan Kekristenan telah direduksi ke formula teoritisnya atau pewartaan oralnya. Maka sangatlah mendesak untuk menghindari pereduksian ortodoksi hanya pada sebuah pemikiran dan perkataan yang benar. Lebih baiknya jika kita berjuang untuk memulihkan makna penuhnya sebagai tindakan yang benar. Namun, kita tidak boleh mempertentangkan bertindak atau praksis sebagai sebuah teori yang bertentangan, melainkan sebuah totalitas atau penyeluruhan konsep praksis yang membentuk sifat dialektiknya. Di sini, praksis melampaui empirisisme, voluntarisme, dan penyederhanaan yang berlebihan. Lebih lagi, pewartaan pesan Kristiani harus tidak dilihat sebagai sebuah tindakan pragmatis yang terisolasi atau murni, melainkan sebuah fase dari keseluruhan aktivitas dari proyeksi historis kekristenan.

Praksis Kenabian

Ortopraksis dari iman yang nyata, menurut Vidales, terdiri dari sebuah profetisisme (paham kenabian) dalam kata-kata, karya, pilihan-pilihan, dan proses-proses. Contoh utama dari profetisisme ini adalah sebuah aktivitas evangelisasi yang bermula dari sebuah pilihan bagi kelas-kelas yang terekspoitasi.

Dalam berkotbah, menurut Vidales, berbicara tentang Kristus adalah untuk mewartakan tentang keselamatan historis, untuk membawa pada penyempurnaan di bawah bentuk-bentuk norma konkret yang baru: Cinta Kristiani dan sebuah komunitas Persaudaraan Kristiani. Oleh karena itu berbicara tentang sebuah evangelisasi yang membebaskan berarti berbicara tentang pembebasan setiap laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan ditentukan oleh strukturasi sebuah masyarakat yang menstigmasi mereka sebagai yang tereksploitasi dan yang tertekan. Di sini seringkali terlupa bahwa hubungan kerygma Kristiani dengan umat manusia merupakan sebuah hubungan yang hakiki dari kerygma yang mengandung resiko-resiko. Itulah hukum inkarnasi bahwa ketika segalanya sudah dikatakan dan dilakukan untuk mewartakan Kristus, kita harus siap untuk mengambil tantangan yang berhadapan dengan mediasi-mediasi politis yang memolitisasi.

Sebagai praksis konkret, kerygma Kristiani harus memandang dengan rasa hormat yang istimewa pada nilai-niai yang dihidupi oleh komunitas. Pesan terwujud dan dihidupi dalam cara-cara yang berbeda dan di waktu yang berbeda. Pertemuaan kembali dengan Kristus di bawah bentuk baru dan dalam loci yang berbeda-beda harus menjadi tema yang relevan dalam bidang pembebasan dan komitmen revolusioner.

Berteologi dari Bawah Mencari Wajah Kristus Ideal

Bagi saya, mengunyah dan memahami apa yang disampaikan Raul Vidales tidaklah mudah. Ini perlu saya sampaikan sebagai sebuah kejujuran untuk menyuarakan apa yang ada dalam hati saya. Sikap saya ini sendiri tidak terlepas dari usaha saya untuk memahami apa yang menjadi pemikiran Vidales sendiri. Ia secara gamblang mengemukakan gagasan-gagasannya tentang bagaimana sebaiknya kita menyuarakan Kristus di tengah dunia dewasa ini yang tentu saja mempunyai keragaman dan kemajemukan situasi. Karena begitu banyaknya keragaman situasi dunia dan tentu saja keragaman pengalaman akan Kristus, ia membatasi diri dengan bercermin pada pengalaman Gereja di Amerika Latin. Setidak-tidaknya, dasar pemikirannya yang saya tangkap adalah teologi pembebasan yang memang berakar pada situasi konkret masyarakat Amerika Latin sendiri. Metode berteologinya nampak berawal dari bawah kemudian direfleksikan dan diangkat untuk mencari bentuk dan wajah Kristus ideal yang tepat untuk situasi yang ia maksudkan.

Bagi saya, hal yang ideal dalam berteologi saat ini memang dari bawah ke atas. Mengapa? Karena seperti yang dikatakan oleh Vidales bahwa dalam peristiwa Inkarnasi, Allah justru hadir dalam realitas dunia manusia untuk melihat, mengalami, mendengar, dan merasakan kedinamisan hidup bangsa manusia supaya dengan itu, Allah mampu mengarahkan manusia menuju pada diriNya. Tentu saja Allah hadir bagi siapa saja. Ia bersifat universal. Namun, memang perlu dipertimbangkan kelemahan-kelemahan manusia sepanjang sejarah dalam melakukan interpretasi keselamatan Allah. Ada banyak kekeliruan dan perkembangan yang dialami manusia untuk menafsirkan keselamatan Allah itu. Namun, justru dalam kelemahan manusia itu, Allah senantiasa hadir membimbing manusia untuk menemukan gambaran diri-Nya dalam situasi khusus setiap daerah, setiap manusia, setiap jaman.

Dengan demikian keterbukaan Gereja kepada kehendak Allah menuntunnya pada pembaharuan diri terus-menerus yang memungkinkan Gereja terus dapat hidup dan oleh karenanya Gereja mampu berbicara tentang Kristus dalam setiap situasi dan jaman yang berbeda. Demikian pula kita, dengan mengikuti Gereja yang terus tetap terbuka pada kehendak Allah, kita masing-masing pun ditantang untuk terus-menerus melihat realitas diri kita masing-masing sebagai loci kehadiran Yesus dengan bertanya dan merumuskan kembali siapakah Yesus bagiku saat ini; dan dengan gambaran dan rumusan yang telah kita peroleh, hendak membentuk dan mengarahkan kita kemana pemahaman akan Yesus yang baru itu.

Sumber:

Raul Vidales, “How Should We Speak of Christ Today?” Dalam Faces of Jesus: Latin American Christologies, ed. Jose Moiguez Bonino, trans. Robert R. Barr (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1984). Hlm. 137-161.

Tidak ada komentar: