Sabtu, 21 Mei 2011

“MANUNGGALING KAWULA GUSTI”

Vico Christiawan

Dalam perjumpaan saya dengan beberapa orang Katolik yang masih memegang teguh tradisi budaya Jawa (selanjutnya saya sebut orang Katolik Kejawen), saya merasakan tegangan yang mereka alami ketika mau menghidupi iman Katolik yang telah mereka peluk. Berikut di bawah ini adalah salah satu ungkapan seorang bapak yang mengalami tegangan tersebut:

“Ekaristi bagi saya penting, tetapi ada satu pertanyaan yang tidak sesuai dengan perasaan saya sebagai orang Jawa. Bagi saya, saat Ekaristi itu terjadi manunggaling kawula Gusti (persatuan dengan Allah). Hal itu terjadi saat saya menerima Tubuh Kristus. Saya hanya belum bisa paham tentang persatuan ini karena menurut ilmu kejawen yang dulu pernah saya pelajari, untuk bisa bersatu dengan Yang Ilahi itu perlu laku yang berat. Dalam Ekaristi kok rasanya gampang banget, makanya seringkali saya sendiri tidak yakin.”

Di sini saya melihat bahwa tegangan tersebut terletak pada usaha untuk “manunggaling kawula Gusti”. Bagi orang Katolik kejawen, untuk sampai pada titik “manunggaling kawula Gusti”, mereka perlu melakukan laku tapa untuk membersihkan diri dan menenangkan diri sebagai persiapan untuk menjumpai Tuhan yang mereka sebut sebagai “Gusti”. Laku tapa ini mereka lakukan agar layak dan pantas hadir di hadirat Allah yang Mahakuasa yang mereka sembah. Di sini ada semacam usaha manusia untuk sampai pada Allah. Dengan kata lain, “manunggaling kawula Gusti” ini hanya bisa dicapai melalui sarana-sarana yang telah ada dalam budaya Jawa.

Namun, ketika mereka mulai menghayati iman Katolik, muncul tegangan yang mereka rasakan. Tegangan itu terletak pada pengalaman mereka saat mendalami iman Katolik itu sendiri, terlebih saat menerima Tubuh dan Darah Tuhan Yesus Kristus, berupa hosti dalam perayaan Ekaristi. Di saat itu, pemahaman mereka tentang Gusti ingkang Mahakuasa, yang kesannya jauh, diputarbalikkan. Gusti yang selama ini mereka anggap jauh, ternyata malah hadir dan mendatangi mereka, bahkan menyatu dengan masuk ke dalam tubuh mereka. Pengalaman perjumpaan ini sempat membuat bingung: bagaimana mungkin, Yesus Kristus yang mereka anggap sebagai Gusti ingkang Mahakuasa, bisa dengan mudah menyatu dengan mereka tanpa ada ‘laku’ tertentu.

Berangkat dari pengalaman ini, saya merasa perlu membahasnya dalam tulisan ini untuk mencari titik temu antara penghayatan budaya Jawa dari orang Katolik kejawen ini dengan iman Katolik yang mereka hidupi. Untuk itu, saya akan membagi tulisan ini menjadi tiga bagian, pertama, konteks tulisan ini berasal, yaitu budaya Jawa yang dihidupi orang Katolik Kejawen, khususnya pemahaman mereka tentang “manunggaling kawula Gusti”. Kedua, Yesus Kristus merupakan pribadi yang menghadirkan Allah Bapa yang mahakuasa bagi orang Katolik Kejawen sehingga “Gusti” yang tadinya jauh, kini menjadi dekat, bahkan bersatu dengan mereka. Ketiga, refleksi Kristologis tentang makna “manunggaling kawula Gusti”.

1. Sumber Pemahaman Orang Jawa tentang Manunggaling Kawula Gusti

Menurut J.B. Banawiratma dalam bukunya berjudul Yesus Sang Guru: Pertemuan Kejawen dengan Injil, kejawen merupakan hasil akulturasi kebudayaan Jawa dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Dengan kata lain, kejawen merupakan pergulatan akulturatif masyarakat Jawa berhadapan dengan macam-macam pengaruh. Akulturasi di sini adalah perjumpaan antara dua budaya di mana mereka sejajar satu sama lain saling menghormati dan toleran tanpa menghasilkan sebuah perubahan di dalamnya. Rumusannya bisa ditulis A+B=AB.

Lanjutnya, pemahaman konsep manunggaling kawula Gusti dapat ditelusuri jejaknya dalam Serat Wulangreh karangan Sunan Paku Buwono IV yang menjadi raja Surakarta mulai 29 September 1788 sampai 10 Oktober 1820. Surat ini berisi tentang macam-macam petunjuk kehidupan agar mencapai kesempurnaan hidup. Dalam salah satu bagiannya, yaitu pupuh 13: sinom, disebutkan upaya untuk mengingat dan mengikuti teladan para lelulur yang dahulu. Teladan itu adalah berprihatin dan mati raga mengendalikan nafsu-nafsu untuk memperoleh kesatuan dengan Gusti. Lanjut Banawiratma, dikatakan di situ bahwa bersatunya kawula dengan Gusti memuat juga cita-cita bersatunya rakyat dengan raja sebagai wakil dari Hyang Agung. Namun, yang ditunjuk di sini akhirnya adalah kesatuan dengan Gusti Allah. Hal ini bisa kita lihat di bawah ini:

Pamore Gusti-Kawula, (“bersatunya Gusti-Kawula,) punika ingkang sayekti, (itulah yang sejati,) dadine soca-ludira, (jadinya cincin emas bermata emas,) iku den waspada ugi, (perhatikanlah itu,) gampangane ta kaki, (mudahnya anakku,) tembaga lan emas iku, (tembaga dan emas itu,) linebur ing dahana, (dilebur dalam api,) luluh awor dadi siji, (luluh lebur jadi satu,) mari nama tembaga tuwin kancana “ (hilanglah nama emas dan tembaga.”) (pupuh 13, pada 11).

Di sini terlihat bahwa bersatunya manusia dengan Allah merupakan kenyataan hidup yang paling dalam. Untuk sampai pada kesatuan ini, di pihak manusia harus mengusahakan hati yang bersih, misalnya dengan mengurangi makan dan tidur. Suci lahir batin harus diusahakan untuk menuju kesatuan dengan Allah.

Konsep manunggaling kawula Gusti ini juga bisa ditelusuri dalam salah satu lakon dalam wayang, yaitu Dewa Ruci. Dalam kisah tersebut, Wrekodara (Pandawa nomor dua) berjumpa dengan Dewa Ruci yang serupa dengan dirinya sendiri. Perjumpaan itu bisa ditafsirkan sebagai pengalaman manusia menemukan dirinya sendiri. Pengalaman menemukan dirinya sendiri itu juga sekaligus merupakan pengalaman bersatu dengan Gusti. Dengan bersatu dengan Gusti itulah manusia menemukan dirinya sendiri.

2. Yesus Kristus Sang Gusti yang Menghadirkan Allah Mahakuasa

Kerinduan manusia untuk berjumpa dan bersatu dengan Allah juga dialami bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama. Dalam Kitab kejadian 1:1-2:4, Allah ditampilkan sebagai Sang Pencipta langit dan bumi dan segala isinya, termasuk manusia. Di sini Allah menyediakan segala sesuatunya bagi manusia untuk dikuasai (Kej 1:28). Manusia sejak awal telah dilibatkan Allah dalam penyelenggaraan ciptaan. Hal ini berarti bahwa sejak awal sudah ada inisiatif yang datang dari Allah untuk menyapa dan melibatkan manusia dalam karya-karya-Nya. Begitu pula dalam pengalaman Abraham, kita bisa melihat bahwa Allah telah lebih dahulu mengadakan perjanjian untuk menjadikan Abraham sebagai bapa segala bangsa (Kej 17:4-5), menggandakan keturunannya (Kej 15:5; 17:2.6; 22:17), menjadi Allah Abraham dan Allah keturunannya (Kej 17:7). Selanjutnya janji Allah itu ditampilkan dalam panggilan Musa yang mengungkapkan keprihatinan Allah terhadap nasib bangsa Israel di tanah Mesir (Kel 3:7-10). Di sini Allah mengutus Musa untuk terlibat dalam pembebasan bangsa Israel. Kemudian, Allah ditampilkan sebagai Allah yang perkasa, mahakuasa, Sang Pembebas bangsa Israel, Sang Pembela, dan Sang Pejuang bangsa Israel dengan menggunakan segenap kemahakuasaan-Nya, misalnya dengan menurunkan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir (Kel 7:14-12:30), membelah Laut Teberau agar bangsa Israel dapat melewati laut itu menuju tanah yang dijanjikan Allah (Kel 14:15-31). Kemahadahsyatan kekuatan Allah juga ditampilkan di Gunung Sinai berupa guruh dan kilat, awan padat di atas gunung, dan bunyi sangkakala yang sangat keras (Kel 19:16; 20:18). Di Gunung Sinai itu pula Allah mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel dengan memberikan kesepuluh perintah Allah (Kel 20:1-17). Penyertaan Allah atas bangsa Israel berlanjut pada masa sesudahnya, yaitu masa hakim-hakim, masa kerajaan, hingga hancurnya kerajaan dengan mengutus seorang hakim atau nabi atau orang yang dipilih-Nya untuk menghibur, melindungi, dan membebaskan mereka dari orang-orang fasik.

Dari pengalaman bangsa Israel tersebut nampak jelas bahwa Allah telah lebih dahulu mendatangi umat-Nya, menyertai perjalanan mereka, melindungi dan membebaskan mereka dari kelaliman bangsa-bangsa fasik. Namun, Allah yang mahakuasa itu masih nampak jauh atau terlalu besar bagi umat Israel untuk mendekat. Kerinduan bangsa Israel akan kehadiran Sang Mesias (Luk 9:20) yang dekat dengan mereka terjawab dengan kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus yang merupakan Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14) telah hadir menyapa mereka, menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, memberi penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4:18-19). Dalam diri Yesus yang adalah Kristus, Allah ditampilkan secara nyata bagi manusia. Dalam diri Yesuslah, Allah yang perkasa dan mahakuasa dihadirkan melalui sikap dan tindakan-Nya dan kecintaan-Nya yang teramat besar bagi mereka hingga mau mengurbankan diri-Nya. Melalui Yesus pulalah, Allah yang mahakuasa dan perkasa tersebut disapa dengan sebutan Bapa (lihat Luk 2:49; 11:2; Mat 5:16,45,48; 6:4,6,8,9,14,18, dst). Dengan demikian, relasi manusia dengan Allah menjadi teramat dekat bagaikan relasi seorang bapa dengan anaknya. Dalam Injil Yohanes, Yesus sering menghadirkan Bapa di dalam diri-Nya melalui kesaksian-Nya, seperti misal ketika Yesus berkata kepada Filipus, “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa…Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (Yoh 14:9-10). Di sini nampak bahwa Yesus hendak menunjukkan bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa siapa saja yang ingin mengenal dan mengetahui lebih dalam siapa Allah yang mahakuasa, lihat saja Yesus orang Nazaret itu.

Rahmat terbesar bagi orang Katolik adalah pernyataan Yesus dalam Injil Yohanes yang mengatakan bahwa Dialah Roti hidup yang telah turun dari sorga. Barangsiapa makan dari Roti itu, ia akan hidup selama-lamanya. Roti yang kita makan adalah daging-Nya yang Dia berikan untuk hidup (Yoh 6:51). Pernyataan-Nya itu Ia wujudkan saat menetapkan perjamuan malam. Dalam Injil Lukas, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada para murid sambil berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19). Dan, perjamuan itu kita lakukan dan rayakan sekarang ini dalam Ekaristi Kudus. Dengan demikian, dalam Ekaristi Kudus, kita boleh menerima Tubuh Yesus Kristus sendiri. Di sinilah letak kesatuan manusia dengan Allah yang mewujud dalam diri Yesus yang dipahami oleh orang Jawa: manunggaling kawula Gusti.

3. Refleksi Kristologis tentang Makna Manuggaling Kawula Gusti

Dari dua pengalaman di atas, yaitu orang Jawa dalam menghayati manunggaling kawula Gusti melalui laku-tapa dan kaum Israel masa perjanjian lama serta orang Yahudi dan kita sekarang dalam masa perjanjian baru ini dalam mengalami perjumpaan dan persatuan dengan Allah, kiranya ada titik temu yang bisa saya lihat. Titik temunya terletak pada tujuan hidup itu sendiri, yaitu bersatu dengan Allah Sang Pencipta.

Pertemuan dua pengalaman, yaitu pengalaman orang Jawa dan orang Yahudi, merupakan sebuah pertemuan yang menurut saya bisa saling mewarnai dan memperkaya satu sama lain. Pemahaman orang Katolik kejawen tentang perlunya laku dalam manunggaling kawula Gusti mendapat tempat dalam iman Katolik. Tempat itu terdapat dalam sikap berjaga-jaga yang diminta Yesus kepada para murid-murid-Nya, misalnya, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti sebuah jerat” (Luk 21:34). Berhati-hati dan bijak dalam hidup agar kelak siap dalam menyongsong hari Tuhan merupakan sebuah sikap laku yang sudah dihayati pula orang Jawa sebagai syarat manunggaling kawula Gusti. Sikap bijak dan tenang meditatif maupun kontemplatif ini pula yang juga dituntut setiap orang Katolik ketika menghadiri perayaan Ekaristi di Gereja Katolik agar semakin mampu merenungkan dan menghayati peristiwa iman akan penderitaan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Sikap ini merupakan perwujudan dari laku batin dan lahiriah dalam menyiapkan batin dan raga dalam menyambut Tubuh Kristus dalam komuni.

Dengan demikian, nyata bahwa pemahaman orang Jawa dalam manunggaling kawula Gusti mendapat terang Injil bahwa Allah yang dihadirkan dalam pribadi Yesus Kristus telah lebih dahulu mendatangi dan bersatu dengan manusia, bukan sebaliknya. Apa yang menjadi tugas manusia hanyalah menyiapkan diri baik secara lahiriah maupun batiniah melalui sikap, tutur kata, dan perbuatan, terus-menerus mengembangkan hidup pribadi dan sosial dengan baik, menjadi saksi Kristus di dalam masyarakat dengan terlibat secara aktif dalam persoalan-persoalan yang terjadi di dalam masyarakat. Inilah laku yang hendaknya menjadi gaya hidup orang-orang Katolik kejawen. Ini pulalah yang dinamakan mengikuti Kristus, yaitu mengikuti cara hidup-Nya, pilihan-pilihan-Nya, dan ajaran-ajaran-Nya.

Sekali lagi saya katakan bahwa bagi orang Katolik Kejawen, Yesus Kristus adalah Gusti, menurut istilah orang Jawa, yang menghadirkan Allah yang mahakuasa dalam diri-Nya sehingga Allah yang Ia sebut Bapa itu menjadi semakin dekat karena telah lebih dahulu berinisiatif datang kepada manusia dan bersatu secara nyata dengan manusia melalui Tubuh dan Darah Yesus sendiri yang telah menjadi santapan jiwa manusia dalam perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, pandangan orang Katolik kejawen dalam menghayati kehadiran Kristus dalam dirinya diperbarui dan diperkaya.

Sumber Pustaka

Banawiratma, J.B. 1977. Yesus Sang Guru: Pertemuan Kejawen dengan Injil .Yogyakarta:

Kanisius.

Indonesia, Lembaga Alkitab. 2009. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Pecklers, Keith F., SJ (ed.). 2003. Liturgy in a Postmodern World. London-New York: Continuum.

Peter C. Phan, “Liturgical Inculturation: Unity in Diversity in the Postmodern Age” dalam Keith F. Pecklers, SJ (ed.), Liturgy in a Postmodern World (London-New York: Continuum, 2003), 55-86.

Tidak ada komentar: