Tampilkan postingan dengan label kristologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kristologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

“MANUNGGALING KAWULA GUSTI”

Vico Christiawan

Dalam perjumpaan saya dengan beberapa orang Katolik yang masih memegang teguh tradisi budaya Jawa (selanjutnya saya sebut orang Katolik Kejawen), saya merasakan tegangan yang mereka alami ketika mau menghidupi iman Katolik yang telah mereka peluk. Berikut di bawah ini adalah salah satu ungkapan seorang bapak yang mengalami tegangan tersebut:

“Ekaristi bagi saya penting, tetapi ada satu pertanyaan yang tidak sesuai dengan perasaan saya sebagai orang Jawa. Bagi saya, saat Ekaristi itu terjadi manunggaling kawula Gusti (persatuan dengan Allah). Hal itu terjadi saat saya menerima Tubuh Kristus. Saya hanya belum bisa paham tentang persatuan ini karena menurut ilmu kejawen yang dulu pernah saya pelajari, untuk bisa bersatu dengan Yang Ilahi itu perlu laku yang berat. Dalam Ekaristi kok rasanya gampang banget, makanya seringkali saya sendiri tidak yakin.”

Di sini saya melihat bahwa tegangan tersebut terletak pada usaha untuk “manunggaling kawula Gusti”. Bagi orang Katolik kejawen, untuk sampai pada titik “manunggaling kawula Gusti”, mereka perlu melakukan laku tapa untuk membersihkan diri dan menenangkan diri sebagai persiapan untuk menjumpai Tuhan yang mereka sebut sebagai “Gusti”. Laku tapa ini mereka lakukan agar layak dan pantas hadir di hadirat Allah yang Mahakuasa yang mereka sembah. Di sini ada semacam usaha manusia untuk sampai pada Allah. Dengan kata lain, “manunggaling kawula Gusti” ini hanya bisa dicapai melalui sarana-sarana yang telah ada dalam budaya Jawa.

Namun, ketika mereka mulai menghayati iman Katolik, muncul tegangan yang mereka rasakan. Tegangan itu terletak pada pengalaman mereka saat mendalami iman Katolik itu sendiri, terlebih saat menerima Tubuh dan Darah Tuhan Yesus Kristus, berupa hosti dalam perayaan Ekaristi. Di saat itu, pemahaman mereka tentang Gusti ingkang Mahakuasa, yang kesannya jauh, diputarbalikkan. Gusti yang selama ini mereka anggap jauh, ternyata malah hadir dan mendatangi mereka, bahkan menyatu dengan masuk ke dalam tubuh mereka. Pengalaman perjumpaan ini sempat membuat bingung: bagaimana mungkin, Yesus Kristus yang mereka anggap sebagai Gusti ingkang Mahakuasa, bisa dengan mudah menyatu dengan mereka tanpa ada ‘laku’ tertentu.

Berangkat dari pengalaman ini, saya merasa perlu membahasnya dalam tulisan ini untuk mencari titik temu antara penghayatan budaya Jawa dari orang Katolik kejawen ini dengan iman Katolik yang mereka hidupi. Untuk itu, saya akan membagi tulisan ini menjadi tiga bagian, pertama, konteks tulisan ini berasal, yaitu budaya Jawa yang dihidupi orang Katolik Kejawen, khususnya pemahaman mereka tentang “manunggaling kawula Gusti”. Kedua, Yesus Kristus merupakan pribadi yang menghadirkan Allah Bapa yang mahakuasa bagi orang Katolik Kejawen sehingga “Gusti” yang tadinya jauh, kini menjadi dekat, bahkan bersatu dengan mereka. Ketiga, refleksi Kristologis tentang makna “manunggaling kawula Gusti”.

1. Sumber Pemahaman Orang Jawa tentang Manunggaling Kawula Gusti

Menurut J.B. Banawiratma dalam bukunya berjudul Yesus Sang Guru: Pertemuan Kejawen dengan Injil, kejawen merupakan hasil akulturasi kebudayaan Jawa dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Dengan kata lain, kejawen merupakan pergulatan akulturatif masyarakat Jawa berhadapan dengan macam-macam pengaruh. Akulturasi di sini adalah perjumpaan antara dua budaya di mana mereka sejajar satu sama lain saling menghormati dan toleran tanpa menghasilkan sebuah perubahan di dalamnya. Rumusannya bisa ditulis A+B=AB.

Lanjutnya, pemahaman konsep manunggaling kawula Gusti dapat ditelusuri jejaknya dalam Serat Wulangreh karangan Sunan Paku Buwono IV yang menjadi raja Surakarta mulai 29 September 1788 sampai 10 Oktober 1820. Surat ini berisi tentang macam-macam petunjuk kehidupan agar mencapai kesempurnaan hidup. Dalam salah satu bagiannya, yaitu pupuh 13: sinom, disebutkan upaya untuk mengingat dan mengikuti teladan para lelulur yang dahulu. Teladan itu adalah berprihatin dan mati raga mengendalikan nafsu-nafsu untuk memperoleh kesatuan dengan Gusti. Lanjut Banawiratma, dikatakan di situ bahwa bersatunya kawula dengan Gusti memuat juga cita-cita bersatunya rakyat dengan raja sebagai wakil dari Hyang Agung. Namun, yang ditunjuk di sini akhirnya adalah kesatuan dengan Gusti Allah. Hal ini bisa kita lihat di bawah ini:

“Pamore Gusti-Kawula, (“bersatunya Gusti-Kawula,) punika ingkang sayekti, (itulah yang sejati,) dadine soca-ludira, (jadinya cincin emas bermata emas,) iku den waspada ugi, (perhatikanlah itu,) gampangane ta kaki, (mudahnya anakku,) tembaga lan emas iku, (tembaga dan emas itu,) linebur ing dahana, (dilebur dalam api,) luluh awor dadi siji, (luluh lebur jadi satu,) mari nama tembaga tuwin kancana “ (hilanglah nama emas dan tembaga.”) (pupuh 13, pada 11).

Di sini terlihat bahwa bersatunya manusia dengan Allah merupakan kenyataan hidup yang paling dalam. Untuk sampai pada kesatuan ini, di pihak manusia harus mengusahakan hati yang bersih, misalnya dengan mengurangi makan dan tidur. Suci lahir batin harus diusahakan untuk menuju kesatuan dengan Allah.

Konsep manunggaling kawula Gusti ini juga bisa ditelusuri dalam salah satu lakon dalam wayang, yaitu Dewa Ruci. Dalam kisah tersebut, Wrekodara (Pandawa nomor dua) berjumpa dengan Dewa Ruci yang serupa dengan dirinya sendiri. Perjumpaan itu bisa ditafsirkan sebagai pengalaman manusia menemukan dirinya sendiri. Pengalaman menemukan dirinya sendiri itu juga sekaligus merupakan pengalaman bersatu dengan Gusti. Dengan bersatu dengan Gusti itulah manusia menemukan dirinya sendiri.

2. Yesus Kristus Sang Gusti yang Menghadirkan Allah Mahakuasa

Kerinduan manusia untuk berjumpa dan bersatu dengan Allah juga dialami bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama. Dalam Kitab kejadian 1:1-2:4, Allah ditampilkan sebagai Sang Pencipta langit dan bumi dan segala isinya, termasuk manusia. Di sini Allah menyediakan segala sesuatunya bagi manusia untuk dikuasai (Kej 1:28). Manusia sejak awal telah dilibatkan Allah dalam penyelenggaraan ciptaan. Hal ini berarti bahwa sejak awal sudah ada inisiatif yang datang dari Allah untuk menyapa dan melibatkan manusia dalam karya-karya-Nya. Begitu pula dalam pengalaman Abraham, kita bisa melihat bahwa Allah telah lebih dahulu mengadakan perjanjian untuk menjadikan Abraham sebagai bapa segala bangsa (Kej 17:4-5), menggandakan keturunannya (Kej 15:5; 17:2.6; 22:17), menjadi Allah Abraham dan Allah keturunannya (Kej 17:7). Selanjutnya janji Allah itu ditampilkan dalam panggilan Musa yang mengungkapkan keprihatinan Allah terhadap nasib bangsa Israel di tanah Mesir (Kel 3:7-10). Di sini Allah mengutus Musa untuk terlibat dalam pembebasan bangsa Israel. Kemudian, Allah ditampilkan sebagai Allah yang perkasa, mahakuasa, Sang Pembebas bangsa Israel, Sang Pembela, dan Sang Pejuang bangsa Israel dengan menggunakan segenap kemahakuasaan-Nya, misalnya dengan menurunkan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir (Kel 7:14-12:30), membelah Laut Teberau agar bangsa Israel dapat melewati laut itu menuju tanah yang dijanjikan Allah (Kel 14:15-31). Kemahadahsyatan kekuatan Allah juga ditampilkan di Gunung Sinai berupa guruh dan kilat, awan padat di atas gunung, dan bunyi sangkakala yang sangat keras (Kel 19:16; 20:18). Di Gunung Sinai itu pula Allah mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel dengan memberikan kesepuluh perintah Allah (Kel 20:1-17). Penyertaan Allah atas bangsa Israel berlanjut pada masa sesudahnya, yaitu masa hakim-hakim, masa kerajaan, hingga hancurnya kerajaan dengan mengutus seorang hakim atau nabi atau orang yang dipilih-Nya untuk menghibur, melindungi, dan membebaskan mereka dari orang-orang fasik.

Dari pengalaman bangsa Israel tersebut nampak jelas bahwa Allah telah lebih dahulu mendatangi umat-Nya, menyertai perjalanan mereka, melindungi dan membebaskan mereka dari kelaliman bangsa-bangsa fasik. Namun, Allah yang mahakuasa itu masih nampak jauh atau terlalu besar bagi umat Israel untuk mendekat. Kerinduan bangsa Israel akan kehadiran Sang Mesias (Luk 9:20) yang dekat dengan mereka terjawab dengan kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus yang merupakan Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14) telah hadir menyapa mereka, menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, memberi penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4:18-19). Dalam diri Yesus yang adalah Kristus, Allah ditampilkan secara nyata bagi manusia. Dalam diri Yesuslah, Allah yang perkasa dan mahakuasa dihadirkan melalui sikap dan tindakan-Nya dan kecintaan-Nya yang teramat besar bagi mereka hingga mau mengurbankan diri-Nya. Melalui Yesus pulalah, Allah yang mahakuasa dan perkasa tersebut disapa dengan sebutan Bapa (lihat Luk 2:49; 11:2; Mat 5:16,45,48; 6:4,6,8,9,14,18, dst). Dengan demikian, relasi manusia dengan Allah menjadi teramat dekat bagaikan relasi seorang bapa dengan anaknya. Dalam Injil Yohanes, Yesus sering menghadirkan Bapa di dalam diri-Nya melalui kesaksian-Nya, seperti misal ketika Yesus berkata kepada Filipus, “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa…Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (Yoh 14:9-10). Di sini nampak bahwa Yesus hendak menunjukkan bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa siapa saja yang ingin mengenal dan mengetahui lebih dalam siapa Allah yang mahakuasa, lihat saja Yesus orang Nazaret itu.

Rahmat terbesar bagi orang Katolik adalah pernyataan Yesus dalam Injil Yohanes yang mengatakan bahwa Dialah Roti hidup yang telah turun dari sorga. Barangsiapa makan dari Roti itu, ia akan hidup selama-lamanya. Roti yang kita makan adalah daging-Nya yang Dia berikan untuk hidup (Yoh 6:51). Pernyataan-Nya itu Ia wujudkan saat menetapkan perjamuan malam. Dalam Injil Lukas, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada para murid sambil berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19). Dan, perjamuan itu kita lakukan dan rayakan sekarang ini dalam Ekaristi Kudus. Dengan demikian, dalam Ekaristi Kudus, kita boleh menerima Tubuh Yesus Kristus sendiri. Di sinilah letak kesatuan manusia dengan Allah yang mewujud dalam diri Yesus yang dipahami oleh orang Jawa: manunggaling kawula Gusti.

3. Refleksi Kristologis tentang Makna Manuggaling Kawula Gusti

Dari dua pengalaman di atas, yaitu orang Jawa dalam menghayati manunggaling kawula Gusti melalui laku-tapa dan kaum Israel masa perjanjian lama serta orang Yahudi dan kita sekarang dalam masa perjanjian baru ini dalam mengalami perjumpaan dan persatuan dengan Allah, kiranya ada titik temu yang bisa saya lihat. Titik temunya terletak pada tujuan hidup itu sendiri, yaitu bersatu dengan Allah Sang Pencipta.

Pertemuan dua pengalaman, yaitu pengalaman orang Jawa dan orang Yahudi, merupakan sebuah pertemuan yang menurut saya bisa saling mewarnai dan memperkaya satu sama lain. Pemahaman orang Katolik kejawen tentang perlunya laku dalam manunggaling kawula Gusti mendapat tempat dalam iman Katolik. Tempat itu terdapat dalam sikap berjaga-jaga yang diminta Yesus kepada para murid-murid-Nya, misalnya, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti sebuah jerat” (Luk 21:34). Berhati-hati dan bijak dalam hidup agar kelak siap dalam menyongsong hari Tuhan merupakan sebuah sikap laku yang sudah dihayati pula orang Jawa sebagai syarat manunggaling kawula Gusti. Sikap bijak dan tenang meditatif maupun kontemplatif ini pula yang juga dituntut setiap orang Katolik ketika menghadiri perayaan Ekaristi di Gereja Katolik agar semakin mampu merenungkan dan menghayati peristiwa iman akan penderitaan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Sikap ini merupakan perwujudan dari laku batin dan lahiriah dalam menyiapkan batin dan raga dalam menyambut Tubuh Kristus dalam komuni.

Dengan demikian, nyata bahwa pemahaman orang Jawa dalam manunggaling kawula Gusti mendapat terang Injil bahwa Allah yang dihadirkan dalam pribadi Yesus Kristus telah lebih dahulu mendatangi dan bersatu dengan manusia, bukan sebaliknya. Apa yang menjadi tugas manusia hanyalah menyiapkan diri baik secara lahiriah maupun batiniah melalui sikap, tutur kata, dan perbuatan, terus-menerus mengembangkan hidup pribadi dan sosial dengan baik, menjadi saksi Kristus di dalam masyarakat dengan terlibat secara aktif dalam persoalan-persoalan yang terjadi di dalam masyarakat. Inilah laku yang hendaknya menjadi gaya hidup orang-orang Katolik kejawen. Ini pulalah yang dinamakan mengikuti Kristus, yaitu mengikuti cara hidup-Nya, pilihan-pilihan-Nya, dan ajaran-ajaran-Nya.

Sekali lagi saya katakan bahwa bagi orang Katolik Kejawen, Yesus Kristus adalah Gusti, menurut istilah orang Jawa, yang menghadirkan Allah yang mahakuasa dalam diri-Nya sehingga Allah yang Ia sebut Bapa itu menjadi semakin dekat karena telah lebih dahulu berinisiatif datang kepada manusia dan bersatu secara nyata dengan manusia melalui Tubuh dan Darah Yesus sendiri yang telah menjadi santapan jiwa manusia dalam perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, pandangan orang Katolik kejawen dalam menghayati kehadiran Kristus dalam dirinya diperbarui dan diperkaya.

Sumber Pustaka

Banawiratma, J.B. 1977. Yesus Sang Guru: Pertemuan Kejawen dengan Injil .Yogyakarta:

Kanisius.

Indonesia, Lembaga Alkitab. 2009. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Pecklers, Keith F., SJ (ed.). 2003. Liturgy in a Postmodern World. London-New York: Continuum.

Peter C. Phan, “Liturgical Inculturation: Unity in Diversity in the Postmodern Age” dalam Keith F. Pecklers, SJ (ed.), Liturgy in a Postmodern World (London-New York: Continuum, 2003), 55-86.

Jumat, 18 Februari 2011

Mengikuti Kristus Mewartakan Kerajaan Allah

Judul di atas merupakan titik pergulatan Hardawiryana ketika ia menggeluti persoalan bidang pewartaan di Gereja Indonesia. Menurutnya, ada persoalan yang mendasar yang perlu dicermati dan diperdalam lebih lanjut ketika Gereja di Indonesia hendak secara lebih sungguh-sungguh melaksanakan bidang pewartaan di Indonesia. Dalam tulisannya berjudul Mengikuti Kristus Mewartakan Kerajaan Allah, Hardawiryana menyebutkan ada dua persoalan yang mesti diperdalam dan diperjelas, yaitu mewartakan Kristus atau mewartakan Kerajaan Allah. Oleh karena itu, dalam makalah pendek ini, pertama-tama saya terlebih dahulu ingin menyajikan persoalan yang ia ajukan; kedua tentang tanggapan teologisnya atas pokok persoalan; ketiga kritik atas metode berteologinya dilihat dalam perspektif Paus Benediktus XVI; keempat, pandangan saya sendiri tentang metode teologi dalam pewartaan yang sesuai dan dibutuhkan di Indonesia.

Mewartakan Kristus atau Kerajaan Allah?

Di sini ia menyajikan dua sumber yang nampaknya kurang sepaham mengenai persoalan pewartaan di Asia. Mereka adalah pandangan tentang evangelisasi di Asia dari Federation Asian Bishop Conference (FABC) dan Ensiklik Paus Yohanes Paulus II “Redemptoris Missio”(RM). Menurut Hardawiryana, pola pikir teologis di Asia dalam dua dasa warsa terakhir cenderung bertitik tolak pada teologi yang berpusat pada Kerajaan Allah. Hal ini timbul sebagai akibat dari perjumpaan antarumat beragama dalam dialog-dialog yang diselenggarakan yang memunculkan pengalaman-pengalaman positif dari masing-masing agama. Tujuan dialog tersebut antara lain adalah agar masing-masing mitra dialog bertumbuh dalam kesempurnaan sehingga dapat membuahkan perkembangan positif dalam penghayatan tradisi keagamaan masing-masing. Inilah yang dimaksudkan oleh FABC dengan pertobatan. Oleh karena itu kerangka teologi yang pada awalnya bersifat eklesiosentris, yaitu berpusat pada Gereja, kemudian beralih pada Kerajaan Allah. Jadi, dialog antarumat beragama terarah pada Kerajaan Allah dan pengabdian kepada masyarakat. Akibatnya, disinyalir bahwa pewartaan Injil tenggelam akibat tekanan yang ditaruh pada inkulturasi, dialog, dan pembebasan.

Dalam Ensiklik RM 17, Paus Yohanes Paulus II merasa keberatan atas teologi yang berpusat pada Kerajaan Allah, yaitu sifat teosentris yang “mendiamkan Kristus”, yang lebih menekankan pada misteri penciptaan dengan mendiamkan misteri penebusan, hanya “menyisakan sedikit tempat saja bagi Gereja” atau kurang menghargai Gereja. Menurutnya, Kerajaan Allah tidak dapat dilepaskan dari Kristus maupun Gereja-Nya. Gereja “secara takterlepaskan bersatu dengan keduanya.” Bagi Yohanes Paulus II, Kristus tetap harus diwartakan karena Ia memiliki sifat mutlak dan universal. Hanya melalui perantaraan-Nyalah segala bentuk partisipatif pengantaraan dari pelbagai agama mendapat makna dan nilainya. Dengan demikian, Gereja tetap perlu keselamatan dan kegiatan misioner “Ad Gentes” harus tetap dipertahankan karena keselamatan datang dari Kristus; dengan demikian, dialog tidak mengurangi perlunya pewartaan Injil. Pewartaan Injil ini harus membuahkan pertobatan, dalam arti berhubungan dengan babtis, agar orang menerima kepenuhan hidup baru dalam Kristus. Oleh karena itu, perintah misioner untuk memanggil orang bertobat dan menerima babtis perlu digalakkan lagi. Hal ini untuk menandingi trend teologi yang cenderung hanya mementingkan dialog antarumat beragama.

Mengikuti Kristus Mewartakan Kerajaan Allah

Dari dua pandangan di atas, Hardawiryana mencoba membuat pandangan teologisnya sendiri sebagai tanggapan atas dua persoalan pokok di atas berdasar pada dua dasar teologisnya. Ia mengajukan dasar teologis pertamanya dengan menyatakan bahwa kehadiran Yesus di dunia adalah untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu ada pada sabda, karya, dan kehadiran-Nya. Mukjizat-mukjizat yang dibuatnya adalah sebagai tanda Kerajaan Allah telah hadir di tengah-tengah manusia dalam diri Yesus Kristus. Bisa dikatakan, Yesus Kristus adalah Kerajaan Allah itu sendiri. Oleh karena itu, setiap orang harus mengambil keputusan untuk bertobat demi memenuhi tuntutan-tuntutan Kerajaan Allah dalam diri Yesus. Singkatnya, untuk mencapai Kerajaan Allah, orang harus beriman akan Yesus.

Dasar teologisnya yang kedua adalah dari Lumen Gentium 5 yang menyatakan bahwa sesudah Yesus bangkit, Ia mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati para murid-Nya. Oleh karena itu, Gereja menerima perutusan untuk mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya di tengah semua bangsa. Dengan demikian, Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan yang sempurna, dan dengan sekuat tenaga berharap dan menginginkan agar kelak dipersatukan dengan Rajanya dalam kemuliaan.

Dari dua dasar teologis ini barulah ia mengajukan pandangannya sendiri perihal model pewartaan yang tepat di kawasan Asia. Pertama-tama ia membuat refleksi teologis tentang pewartaan menuju kepenuhan Kerajaan Allah. Di sini ia mengatakan bahwa adanya bermacam-macam agama yang memiliki peran positif dalam mengusahakan hal-hal yang baik bagi masyarakat tidak terletak di luar rencana keselamatan Allah yang mencakup segenap umat manusia. Sementara itu Gereja tetap melangsungkan misteri Yesus Kristus di dunia sebagai lambang dan realisasi benih Kerajaan Allah dengan melangsungkan karya penebusan Kristus terhadap seluruh bangsa dengan sifat “sekular”-nya, khususnya di Asia. Karya penebusan Kristus itu dilaksanakan, dengan bekerja sama dengan umat beragama lain, untuk mewujudkan nilai-nilai keadilan, perdamaian, kekerabatan, dan cinta kasih yang merupakan nilai-nilai Kerajaan Allah serta menciptakan kesejahteraan yang merupakan realisasi awal Kerajaan Allah itu.

Kedua, pewartaan melalui Yesus Kristus Putera Tunggal. Di sini ia sekali lagi nampak mengulang apa yang sudah dirumuskan FABC V, yaitu bahwa proklamasi Yesus Kristus merupakan pusat dan unsur primer evangelisasi. Tanpa itu semua unsur lainnya akan kehilangan kohesi dan dasar kekuatannya. Oleh karena itu, tugas primer Gereja adalah pewartaan Injil Yesus Kristus. Namun, Gereja tetap harus mengedepankan sifat unik dan universal misteri perantaraan Yesus Kristus yang tunggal dengan peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Jika Gereja hanya mengkhususkan misteri Kristus itu pada dirinya, justru ia mengabaikan sifat universal misteri Yesus Kristus itu. Padahal Gereja dipanggil untuk melayani misteri itu, bukan untuk memonopolinya.

Ketiga, tentang bagaimana memproklamasikan Yesus melalui, salah satunya, dialog antarumat beragama untuk menuju pada pertobatan. Di sini, Hardawiryana menekankan perlunya Gereja mengindahkan rencana Keselamatan Allah yang melibatkan semua bangsa dan karya Roh Tuhan dalam agama-agama lain. Dari penekanan ini, ia berlanjut pada bagaimana memproklamirkan Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa melalui, salah satunya, jalan dialog antarumat beragama. Menurutnya, proklamasi tentang Yesus Kristus dan Injil-Nya secara langsung mengungkapkan kesadaran Gereja akan perutusan yang diterimanya dari Allah, dan merupakan pernyataan serta kesaksian akan karya Allah dalam Gereja sendiri. Dialog di sini dilaksanakan sebagai kesaksian akan Kristus dan ditandai sikap terbuka bagi misteri kegiatan Allah dalam diri para penganut agama-agama lain. Oleh karena itu, fokus utama dialog adalah bukan lagi pada Gereja, melainkan pada Allah, terarah pada Kerajaan-Nya, dan mengabdi kepada masyarakat. Dialog yang dijalankan tersebut merupakan bentuk komunikasi iman untuk mencari “cara” atau “corak dasar” evangelisasi, bahkan “bentuk ideal evengelisasi”. Selain itu, dialog yang dijalankan juga harus menuju pada pertobatan hati dan perubahan peri hidup yang terarah pada Allah, sementara orang tetap berpegang pada keyakinan keagamaannya sendiri. Dengan demikian, Gereja Asia yang merupakan kawanan kecil di tengah lautan para penganut agama-agama dan kepercayaan lain perlu mencari paradigma teologi yang baru yang berakar pada pengalaman-pengalaman konkret dan sekaligus sesuai dengan “visi kosmis” yang sudah mendarahdaging dalam kebudayaan masyarakat ketimuran.

Kritik atas Metode Berteologi Robert Hardawiryana, SJ

dalam Perspektif Paus Benediktus XVI

Dari ulasan tentang cara Hardawiryana berteologi, saya melihat bahwa bagaimanapun juga ia tetap mendasarkan pandangan teologisnya pada konteks dan locus teologi, yaitu kenyataan yang ada di Asia: pluralitas keagamaan! Dengan kata lain, ia mengusung teologi yang berbasiskan pengalaman konkret perjumpaan dengan pluralitas keagamaan di Asia. Dari konteks tersebut, barulah ia berupaya membangun teologinya dari perspektif Asia. Oleh karena itu, tekanannya adalah tetap pada pewartaan Kerajaan Allah sebagaimana Yesus selama di dunia mewartakan Kerajaan Allah melalui kesaksian iman akan Yesus Kristus. Di sini, dialog menjadi salah satu jalan pewartaan Kerajaan Allah.

Dengan demikian, teologi yang nampak dalam tulisan Hardawiryana adalah teologi dari bawah, yaitu teologi yang berangkat dari pengalaman konkret perjumpaan dengan umat beragama lain, masuk ke dalam perumusan metode yang paling tepat dan strategis dalam mengemban perutusan pewartaan Gereja dalam konteks Asia, kemudian diangkat ke ranah teologis (ascending teology). Dengan kata lain, teologi yang dipakai Hardawiryana adalah teologi kontekstual, yaitu teologi yang berbasis pada konteks di mana teologi itu berpijak.

Lalu, seandainya Paus Benediktus XVI membaca tulisan Hardawiryana ini, kira-kira apa yang akan ia sampaikan perihal cara berteologi Hardawiryana ini? Nampaknya ia akan sependapat dengan Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik RM bahwa tekanan berlebihan pewartaan terhadap Kerajaan Allah akan mengurangi peran Yesus Kristus dalam sejarah keselamatan manusia. Memang Hardawiryana tetap menempatkan Yesus Kristus sebagai unsur penting dan esensial bagi evangelisasi. Namun, tekanan Hardawiryana adalah lebih pada sifat unik dan universal misteri perantaraan Yesus Kristus yang tunggal dengan peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Konsekuensinya, Gereja dipanggil untuk melayani misteri itu, bukan untuk memonopolinya. Bagi Benediktus XVI, hal ini problematis karena aspek Kristologis dan ekklesiologis tidak lagi menjadi tekanan utama dalam teologi Hardawiryana. Tekanan Hardawiryana pada nilai-nilai Injili, seperti keadilan, perdamaian, kekerabatan, dan cinta kasih yang penting untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia bagi Benediktus XVI hanya akan mereduksi kebenaran Injili menjadi nilai. Kebenaran injil, bagi Benediktus XVI hanyalah akan menjadi imperatif moral saja. Dengan demikian, pewartaan iman akan Kristus hanya akan menjadi pewartaan nilai belaka. Di sini, Injil, bagi Benediktus XVI, adalah suatu penampang yang memurnikan dan yang mendatangkan pertumbuhan dan keselamatan.

Mengenai tekanan teologi Hardawiryana pada kenyataan bahwa Roh Kudus pun bekerja di dalam segala, khususnya dalam penganut agama-agama lain sehingga mereka memunculkan sisi positif yang tidak hanya berguna bagi perkembangan kerohanian keimanan agama mereka, namun juga bagi kepentingan masyarakat, Benediktus tidak menyangkal kenyataan ini bahwa ada yang suci dan benar dalam agama-agama itu. Namun, karena posisi Benediktus yang menyatakan bahwa hanya Kristuslah satu-satunya penyelamat umat manusia yang benar dan final, tempat agama-agama tersebut berada pada tempat “persiapan” akan kekristenan sehingga mereka dipandang positif sejauh berada dalam jalan “menuju” pada keselamatan dalam Kristus. Dengan demikian, dialog sejati hanya akan berjalan dengan baik apabila mencari kebenaran yang lebih dalam dan mendasar tanpa mengeliminir kebenaran yang sejati. Ketakutan Benediktus XVI dalam dialog di Asia adalah apabila dalam dialog tersebut Yesus Kristus disamakan dengan tokoh-tokoh agama-agama lain. Hal ini bagi Benediktus adalah termasuk dalam relativisme agama, apalagi tekanan teologi Hardawiryana adalah Kerajaan Allah. Demikianlah, Benediktus XVI tetap akan menekankan aspek Kristologis dan ekklesientris dalam melakukan pewartaan di Asia; dan dialog hanya bisa dilakukan sejauh tidak mengorbankan kebenaran, melainkan membangun hidup manusia menjadi semakin manusiawi.

Metode Berteologi dalam Pewartaan yang Sesuai dan Dibutuhkan di Indonesia

Setelah belajar dari metode berteologi Hardawiryana dan Benediktus XVI, khususnya tentang teologi apa yang sebaiknya diterapkan di Asia, saya akan mencoba mengusulkan metode berteologi apa yang sesuai dan dibutuhkan di Indonesia. Pertama-tama saya akan melihat dulu situasi Indonesia terlebih dahulu. Seperti kita tahu bahwa jumlah anggota Gereja Katolik di Indonesia hanyalah sebesar 3% dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia yang mayoritas merupakan umat Muslim. Selain itu, Indonesia juga sangat kaya akan keberagaman budaya dan tradisi yang ikut mewarnai cara jemaat menggereja dan cara berpastoral pula. Situasi keterbukaan dan transparansi di Indonesia pascareformasi di mana kebebasan berpendapat dan beragama dijamin menjadi ruang yang kondusif bagi perkembangan Gereja di masa kini. Situasi-situasi tersebut layak menjadi pertimbangan kita tentang metode berteologi seperti apa yang sesuai dan dibutuhkan di Indonesia.

Menurut saya, metode berteologi yang sesuai dan saat ini dibutuhkan di Indonesia adalah metode berteologi yang berbasiskan pada konteks di mana teologi itu berpijak. Tentu saja, inti pewartaan, menurut saya, adalah tetap Yesus Kristus sebagai Juruselamat umat manusia karena untuk itulah Gereja dipanggil. Di dalam Yesus Kristus inilah Kerajaan Allah dan Injil hadir. Namun, persoalannya adalah bagaimana pewartaan ini tetap bisa dijalankan di Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan memiliki budaya yang sangat beragam. Salah satu cara adalah dengan kesaksian. Kesaksian hidup sehari-hari yang bernafaskan iman akan Yesus Kristus ini menjadi kunci dalam melaksanakan pewartaan Kristus dan Kerajaan Allah. Sebagaimana Yesus Kristus telah lebih dahulu menghidupi warta gembira Kerajaan Allah dan Injil-Nya, bahkan dikatakan wujud Kerajaan Allah adalah ada dalam diri Yesus Kristus, kita pun seharusnya menghayati isi iman akan Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari khususnya dalam perjumpaan dengan penganut agama lain (baca: Islam) sehingga warta gembira Kerajaan Allah terpancar, menjadi terang bagi masyarakat. Oleh karena itu, dalam dialog-dialog yang diselenggarakan sebaiknya berisi tentang pengenalan satu sama lain tentang iman yang dihayati tanpa mengurangi kebenaran yang ada dalam ajaran iman masing-masing agama. Selain itu, bersama-sama mengupayakan kesejahteraan masyarakat sebagai konsekuensi logis dari iman yang dihayati masing-masing mitra dialog itu.

Kesaksian iman akan Kristus itu dalam bentuk yang lebih konkret, yaitu pelayanan kasih terhadap sesama dan masyarakat untuk menghadirkan Kerajaan Allah, menurut saya, merupakan metode berteologi yang paling sesuai dan dibutuhkan di Indonesia. Keterlibatan aktif jemaat Gereja Katolik dalam keprihatinan dan kegiatan kemasyarakatan dalam pelbagai bidang di masyarakat menjadi sarana dan wadah pewartaan Kristus yang efektif sehingga Gereja, meskipun merupakan berupa kawanan kecil, menjadi terang dan garam bagi masyarakat di sekitarnya.

Sumber Referensi

Hardawiryana, R, 2000, Mengikuti Kristus-Mewartakan Kerajaan Allah: Beberapa Pokok yang Relevan bagi Katakese Masa Kini di Indonesia, Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat.

Krispurwana Cahyadi, SJ, 2010, Benediktus XVI, Yogyakarta: Kanisius.

Bagaimana Seharusnya Kita Berbicara tentang Kristus Saat Ini?


Menyambut tahun baru 2011 ini, saya mengajak Anda semua untuk melihat kembali pengalaman perjumpaan kita dengan Yesus pribadi dalam hidup kita masing-masing. Barangkali penemuan-penemuan kita nanti akan membawa kita pada sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak kita sadari, yaitu penemuan akan Yesus yang senantiasa hadir dan membentuk hidup dan pribadi kita. Dalam penemuan itu, semoga saja, kita mampu merumuskan kembali siapa Yesus Kristus bagi diri kita pribadi saat ini. Pengenalan dan pemahaman akan Yesus Kristus yang baru ini akan menuntun kita pada cara hidup dan bertindak yang baru pula sehingga di tahun baru ini kita terus dijiwai oleh semangat Yesus Kristus yang mewahyukan diri-Nya secara pribadi kepada kita. Dengan demikian, kita bisa mewartakan Kristus dengan cara dan metode yang baru pula.

Untuk menemani peziarahan kita dalam merumuskan siapa Yesus Kristus bagi kita di tahun baru ini, saya akan menghadirkan seorang teolog pembebasan dari Meksiko yang terkenal dengan metode berteologinya, yaitu Raúl Vidales. Basis teologinya adalah teologi pembebasan yang ia pandang sebagai teologi yang mencari penjelasan makna keselamatan di dunia dari perspektif mereka yang tertindas. Persoalan pokok tentang iman, khususnya di bidang Kristologi yang hendak ia ajukan dalam kesempatan ini adalah bagaimana seharusnya kita berbicara tentang Kristus saat ini?

Kontradiksi dalam diri Yesus melahirkan manusia baru

Persoalan ini, yaitu tentang bagaimana berbicara tentang Kristus saat ini, menurut Vidales, perlu didekati dari hal-hal yang sangat sederhana dan melalui kepekaan perasaan kita ketika bersentuhan dengan pengalaman rohani kita. Di sini kita perlu akui bahwa kehadiran Kristus adalah merupakan suatu tanda pertentangan di tengah sebuah kontradiksi yang lebih luas. Ia selalu menjadi sebuah teka-teki dalam diri-Nya yang seseorang tidak mudah untuk memecahkan-Nya. Meski demikian, Ia tetap hadir secara kontekstual dalam dunia kita yang unik dan ganjil, yang sarat dengan problem modernitas, seperti kolonialisme, imperialisme, rasisme, dan semacamnya. Namun, hal yang mengejutkan adalah bahwa nampaknya ke-kontradiktorisan dalam diri-Nya justru merupakan intensional-Nya untuk menuntun manusia ke arah sebuah pola aktivitas yang baru, bangkit dari pembaharuan batiniah. Dengan demikian manusia dibaharui oleh Yesus menjadi “sesuatu yang baru”.

Untuk menjadi manusia baru perlu sikap yang selalu mengarah pada pesan Injili, yaitu iman. Iman yang dialami dalam situasi konflik, situasi pribadi yang mengalami kebutuhan yang sangat konkret, percaya dalam Kristus secara baru. Untuk keperluan itu, Vidales menskematisasi tuntutan tugas yang juga merefleksikan sebuah metodologi dalam tiga perspektif, yaitu perspektif tentang iman, teologi, dan evangelisasi.

Perspektif Iman: Pengalaman Umat Kristiani

Menurut Vidales, peristiwa inti bagi umat Kristiani yang terlibat dengan pembebasan adalah sebuah pengalaman yang baru akan Kristus. Cara baru mereka beriman dalam Yesus Kristus melibatkan sebuah cara pemahaman, penerimaan, dan perwujudan pesan-pesan Kristus yang baru pula. Hal ini bisa kita lihat dalam pertemuan dengan Kristus dalam sejarah, terutama umat Kristiani di Amerika Latin yang di saat mengalami krisis secara politis menggunakan wajah eklesial. Gereja saat itu mulai menampakkan tidak hanya kelemahannya, tetapi juga secara terbuka terlibat dengan kekuasaan yang cenderung mempertahankan sebuah kekuasaan yang tidak manusiawi karena melibatkan perbudakan seluruh orang. Ada ketegangan di sini antara menolak kekuasaan atau memilikinya. Ketegangan itu menghasilkan pengaruh yang mendalam pada gerakan-gerakan awal Gereja, yaitu tuduhan-tuduhan terhadapnya yang lama-kelamaan membatasi bentuk konkret persoalan Kristologi yang lebih dalam.

Di sini, gambaran mengenai Kristus mulai nampak seperti gambaran yang memberontak dan bernada kasar dan sulit ditemukan. Di saat seperti itulah, Gereja tidak menemukan sumber inspirasi atau orientasi mereka kepada Injil. Yesus mereka rasakan sebagai sebuah absenteisme.

Selain itu, ada juga persoalan lain yang bisa membuat lebih komplek dalam rangka mencari Kristologi yang relevan, yaitu gambaran Kristus yang reaktif, gambaran Kristus tradisional yang peradaban-Nya ke-Barat-baratan yang tidak biblis, tidak menyejarah, gambaran Kristus yang diidealkan.

Tantangan saat ini adalah bagaimana menemukan gambaran wajah Kristus yang baru. Kadang-kadang wajah Yesus mempunyai sebuah nama dan sebuah kelompok sifat yang akrab dengan kita, namun, kadang-kadang Ia tak bernama, 'nothing', rata-rata pada umumnya, orang yang termarjinalisasi, orang-orang pinggiran. Oleh karena itu, pengalaman akan wajah Kristus yang seperti inilah yang akhirnya memasuki petualangan akan Kristologi yang baru. Pengalaman rohani seperti inilah yang secara kodrat dasarnya membawa gerakan pertobatan, yang berarti membuat konkret pilihan memihak dan hidup bersama orang-orang tersingkir dalam pergulatan mereka. Iman inilah yang menjadi sebuah tindakan solider dengan mereka, tindakan protes melawan kemiskinan yang mereka hidupi, tindakan identifikasi dengan keberpihakan pada kelas yang ditindas, dan tindakan terus-terang mengadukan eksploitasi yang mengorbankan mereka. Akhirnya muncul gambaran Kristus Sang Pembebas yang nantinya diwujudkan dalam kebebasan. Di sini Kristus menampakkan diri-Nya dalam realitas keberadaan dan proses dari hati ke hati dan jerit tangis setiap orang yang tertekan dan tertindas oleh struktur. Demikianlah pengalaman personal akan Kristus merupakan kriteria discernmen yang utama dan definitif yang melampaui segala yang lain.

Perspektif Teologi

Dari perspektif teologi pembebasan sendiri, menurut Vidales, dasar Kristologi mempunyai nilai-nilai yang bertitik tolak dari suatu bagian yang panjang, kata dan praksis atas pembebasan di mana keduanya bertemu berdasarkan dialektika dalam kenyataan proses sejarah. Namun, ada beberapa persoalan yang nampaknya muncul akibat kecenderungan mereduksi teologi logos yang hanya diperuntukkan kepada dominasi kelas-kelas tradisional Kristen Barat. Mereka bahkan bisa melakukan tindakan manipulatif pemikiran tentang Tuhan bagi kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Dengan demikian teologi hanya akan menjadi sebuah teologi elit yang berpindah dari persoalan-persoalan aktual menuju bagaimana melanggengkan kekuasaan dari suatu kelompok elit tertentu dalam masyarakat.

Namun, ada beberapa keuntungan yang dapat diambil dari situasi di atas bagi perkembangan Kristologi, di antaranya adalah pertama, penekanan pada keheningan dan doa dalam membangun teologi Kristus sehingga melahirkan keterbukaan pada Kristus dan juga keterbukaan pada yang lain. Sebuah kristologi yang mempunyai kebebasan perspektif akan berangkat dari pengalaman akan Kristus yang hanya bisa dihayati dalam suatu area yang melampaui semua bahasa, yang hanya mampu bertemu dengan Sang Sabda dalam sebuah keheningan dan doa. Karena dari keheningan dan doa, Kristus mampu diwartakan dengan baik; dan keterbukaan akan Kristus memungkinkan untuk terus-menerus dilakukan dan dialami sehingga mendorong pula suatu sikap terbuka kepada yang lain. Justru dengan keterbukaan dengan yang lain itulah Kristus dapat ditemukan. Kristus juga sungguh dapat ditemukan hidup dalam tradisi dan budaya yang aktual di mana setiap orang dapat mengalaminya secara nyata, bukan lagi dalam tataran ideal atau cita-cita. Dengan demikian, teologi pembebasan menekankan tidak hanya ketokohan dan sifat Kristus dari Nazaret, melainkan sifat dari Misteri Kristus yang selalu hadir dan mengikuti ritme sejarah manusia karena ia tinggal bersama dengan mereka. Di sinilah letak kenosis-nya Yesus yang bersedia terlibat dalam kenyataan manusia dunia ini.

Kedua, dimensi politik dari kehidupan Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. Di sini, Vidales mengajak kita untuk melihat gambaran yang tepat mengenai Yesus, yaitu Sang Pembebas karena Dia secara berkesinambungan memanggil suatu perubahan yang terus-menerus menuju sebuah transformasi revolusioner di dalam manusia dan di dalam masyarakat. Di sini, Yesus menekankan suatu dimensi kenabian untuk secara jujur dan terbuka menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada dunia. Dengan demikian, figurnya sebagai seorang Pembebas menjadi sebuah kenyamanan dan harapan bagi kaum yang tak bersuara.

Ketiga, persoalan bagaimana melakukan tafsiran secara kontekstual atas Kitab Suci sehingga mampu menyumbangkan sebuah makna dan pemahaman baru dalam bidang Kristologi. Pemahaman dan pengetahuan akan pesan-pesan Yesus dalam Kitab Suci tidak bisa tidak harus ditafsirkan secara baru. Teologi Pembebasan sedang menggali jejak baru di dalam teologi hermeneutik Kitab Suci untuk mempertajam Kristologi. Di sini, teologi memang sebaiknya mampu menginterpretasikan tindakan keselamatan Allah tidak hanya dalam ranah gagasan atau pemikiran-pemikiran, melainkan berkolaborasi dengan wilayah praksis. Dengan demikian kebebasan untuk meraih akses kepada kebenaran dapat dirasakan oleh semua kalangan umat beriman.

Akhirnya, pemahaman Kristologi yang baru dengan sendirinya melahirkan sebuah eklesiologi baru. Eklesiologi baru di Amerika Latin nampak dan lebih jelas sebagai kenosis Kristus. Konkretnya sebagai sebuah Gereja kaum miskin. Menurut Vidales, kita membutuhkan Gereja yang tidak hanya mampu memegang kunci politik, sosial, budaya, ekonomi, atau setiap persoalan-persoalan etika, melainkan kita tetap membutuhkan Gereja sebagai kenosis, sebuah Gereja yang mengosongkan diri supaya mampu bersikap lepas bebas terhadap superioritas. Singkatnya kita membutuhkan gereja yang kuat, yang tidak hanya menerima sejumlah doktrin yang dipercaya atau doa-doa yang didaraskan secara berulang-ulang, melainkan Gereja yang menyerupai gambaran Kristus sendiri dalam kenosis-Nya.

Perspektif Evangelisasi

Perspektif ini memunculkan soal-soal pastoral, yaitu bagaimana kita harus memberitakan Kristus di sini dan sekarang? Pertanyaan lain yang lebih relevan adalah bagaimana kita harus berbicara tentang Kristus saat ini dari sudut pandang teori dan praksis pastoral? Ada tiga momen yang terkait secara dialektikal, yaitu praksis sebagai kesaksian, kerygma sebagai praksis, dan praksis kenabian.

Praksis sebagai Kesaksian

Pada poin ini kita, menurut Vidales, sebaiknya mulai dari pengalaman baru dari sebuah evangelisasi yang membebaskan di Amerika Latin. Evangelisasi yang membebaskan harus memeluk tidak hanya dimensi ekonomi-politik dari manusia tetapi juga totalitas kemanusiaan dan orisinalitas (keaslian) Kekristenan yang masing-masing terkait secara mendalam satu sama lain. Kandungan pemberitaan evangelisasi primordial ini adalah peristiwa radikal di mana orang-orang Kristiani dipertemukan dengan sebuah pewahyuan terus-menerus, sebuah pembebasan yang telah dicapai dan dibuktikan di jantung sejarah melalui visi iman.

Pemberitaan evangelisasi primordial ini juga membawa kegembiraan atas penemuan diri, kegembiraan atas pengalaman seseorang, kegembiraan atas pengalaman seseorang yang dicintai Allah, dan kegembiraan atas karya cinta Allah. Pemberitaan evangelisasi primordial ini bertitik tolak dari solidaritas dasar dengan kelas-kelas yang tereksploitasi sehingga di sini pemberitaan ini mempunyai dimensi politis sebagai sebuah dimensi intrinsik dari Kasih Bapa bagi seluruh umat manusia. Pemberitaan evangelisasi primordial ini menyumbangkan sebuah pengaruh politis dan kelas, langsung dan kritis, pada semua proses pembebasan-terbuka. Oleh karena itu, ia mempunyai karakter sejarah yang konfliktual. Hal ini dapat kita lihat pada tempat perwujudannya (locus of realization) secara konkret dalam situasi yang konkret pula dalam rangka option for the poor. Dalam hal ini, tempat dan situasi konkret adalah kelas-kelas (mereka) yang tereksploitasi.

Kerygma sebagai Praksis

Di sini sekali lagi ditegaskan bahwa bukan kita yang merupakan dasar "pengkotbah" atau pewarta Yesus, melainkan Yesus sendiri yang mewartakan diriNya, Roh-Nyalah yang berbicara, Kristuslah yang bekerja dan mewujudkan diri-Nya sendiri melalui sebuah "bahasa total" (total language), bekerja dan berbicara dari sebuah keterlibatan-Nya dalam sejarah dan dari sebuah kedalaman di dalam setiap umat manusia sebagaimana di dalam sebuah masyarakat. Oleh karena itu kita harus mengosongkan diri dan memurnikan diri dengan rasa hormat pada diri kita sendiri dan komitmen konkret kita dalam bentuk keheningan sikap dan tingkah laku yang total. Dengan demikian, misi dapat dilihat sebagai sebuah pelayanan, sebuah komitmen dan sebuah tanggungjawab yang diperuntukkan bagi sesama. Misi tidak hanya mengajar, melainkan sebuah kenyataan, kehadiran dan kedinamisan. Di sini pesan Injil harus dibaca dari bukti konkret dan pelayanan khusus yang dituntut oleh kehadiran Kristus di setiap umat manusia dan budaya.

Kristus adalah inti dari Kerygma Kekristenan. Oleh karena itu, menurut Vidales, kerygma ini dijaga sebagai karakter yang hakiki bukan hanya sebagai logos atau pengetahuan, tetapi juga sebagai pneuma (roh) dan kedinamisan logos. Kerygma kekristenan ini hanya bisa diwujudkan sebagai sebuah gerak dinamis yang historis atau menyejarah. Jika tidak, evangelisasi menjadi tidak berguna alias impoten karena hanya melayani kelas-kelas yang mendominasi.

Secara tradisional, ortodoksi pesan Kekristenan telah direduksi ke formula teoritisnya atau pewartaan oralnya. Maka sangatlah mendesak untuk menghindari pereduksian ortodoksi hanya pada sebuah pemikiran dan perkataan yang benar. Lebih baiknya jika kita berjuang untuk memulihkan makna penuhnya sebagai tindakan yang benar. Namun, kita tidak boleh mempertentangkan bertindak atau praksis sebagai sebuah teori yang bertentangan, melainkan sebuah totalitas atau penyeluruhan konsep praksis yang membentuk sifat dialektiknya. Di sini, praksis melampaui empirisisme, voluntarisme, dan penyederhanaan yang berlebihan. Lebih lagi, pewartaan pesan Kristiani harus tidak dilihat sebagai sebuah tindakan pragmatis yang terisolasi atau murni, melainkan sebuah fase dari keseluruhan aktivitas dari proyeksi historis kekristenan.

Praksis Kenabian

Ortopraksis dari iman yang nyata, menurut Vidales, terdiri dari sebuah profetisisme (paham kenabian) dalam kata-kata, karya, pilihan-pilihan, dan proses-proses. Contoh utama dari profetisisme ini adalah sebuah aktivitas evangelisasi yang bermula dari sebuah pilihan bagi kelas-kelas yang terekspoitasi.

Dalam berkotbah, menurut Vidales, berbicara tentang Kristus adalah untuk mewartakan tentang keselamatan historis, untuk membawa pada penyempurnaan di bawah bentuk-bentuk norma konkret yang baru: Cinta Kristiani dan sebuah komunitas Persaudaraan Kristiani. Oleh karena itu berbicara tentang sebuah evangelisasi yang membebaskan berarti berbicara tentang pembebasan setiap laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan ditentukan oleh strukturasi sebuah masyarakat yang menstigmasi mereka sebagai yang tereksploitasi dan yang tertekan. Di sini seringkali terlupa bahwa hubungan kerygma Kristiani dengan umat manusia merupakan sebuah hubungan yang hakiki dari kerygma yang mengandung resiko-resiko. Itulah hukum inkarnasi bahwa ketika segalanya sudah dikatakan dan dilakukan untuk mewartakan Kristus, kita harus siap untuk mengambil tantangan yang berhadapan dengan mediasi-mediasi politis yang memolitisasi.

Sebagai praksis konkret, kerygma Kristiani harus memandang dengan rasa hormat yang istimewa pada nilai-niai yang dihidupi oleh komunitas. Pesan terwujud dan dihidupi dalam cara-cara yang berbeda dan di waktu yang berbeda. Pertemuaan kembali dengan Kristus di bawah bentuk baru dan dalam loci yang berbeda-beda harus menjadi tema yang relevan dalam bidang pembebasan dan komitmen revolusioner.

Berteologi dari Bawah Mencari Wajah Kristus Ideal

Bagi saya, mengunyah dan memahami apa yang disampaikan Raul Vidales tidaklah mudah. Ini perlu saya sampaikan sebagai sebuah kejujuran untuk menyuarakan apa yang ada dalam hati saya. Sikap saya ini sendiri tidak terlepas dari usaha saya untuk memahami apa yang menjadi pemikiran Vidales sendiri. Ia secara gamblang mengemukakan gagasan-gagasannya tentang bagaimana sebaiknya kita menyuarakan Kristus di tengah dunia dewasa ini yang tentu saja mempunyai keragaman dan kemajemukan situasi. Karena begitu banyaknya keragaman situasi dunia dan tentu saja keragaman pengalaman akan Kristus, ia membatasi diri dengan bercermin pada pengalaman Gereja di Amerika Latin. Setidak-tidaknya, dasar pemikirannya yang saya tangkap adalah teologi pembebasan yang memang berakar pada situasi konkret masyarakat Amerika Latin sendiri. Metode berteologinya nampak berawal dari bawah kemudian direfleksikan dan diangkat untuk mencari bentuk dan wajah Kristus ideal yang tepat untuk situasi yang ia maksudkan.

Bagi saya, hal yang ideal dalam berteologi saat ini memang dari bawah ke atas. Mengapa? Karena seperti yang dikatakan oleh Vidales bahwa dalam peristiwa Inkarnasi, Allah justru hadir dalam realitas dunia manusia untuk melihat, mengalami, mendengar, dan merasakan kedinamisan hidup bangsa manusia supaya dengan itu, Allah mampu mengarahkan manusia menuju pada diriNya. Tentu saja Allah hadir bagi siapa saja. Ia bersifat universal. Namun, memang perlu dipertimbangkan kelemahan-kelemahan manusia sepanjang sejarah dalam melakukan interpretasi keselamatan Allah. Ada banyak kekeliruan dan perkembangan yang dialami manusia untuk menafsirkan keselamatan Allah itu. Namun, justru dalam kelemahan manusia itu, Allah senantiasa hadir membimbing manusia untuk menemukan gambaran diri-Nya dalam situasi khusus setiap daerah, setiap manusia, setiap jaman.

Dengan demikian keterbukaan Gereja kepada kehendak Allah menuntunnya pada pembaharuan diri terus-menerus yang memungkinkan Gereja terus dapat hidup dan oleh karenanya Gereja mampu berbicara tentang Kristus dalam setiap situasi dan jaman yang berbeda. Demikian pula kita, dengan mengikuti Gereja yang terus tetap terbuka pada kehendak Allah, kita masing-masing pun ditantang untuk terus-menerus melihat realitas diri kita masing-masing sebagai loci kehadiran Yesus dengan bertanya dan merumuskan kembali siapakah Yesus bagiku saat ini; dan dengan gambaran dan rumusan yang telah kita peroleh, hendak membentuk dan mengarahkan kita kemana pemahaman akan Yesus yang baru itu.

Sumber:

Raul Vidales, “How Should We Speak of Christ Today?” Dalam Faces of Jesus: Latin American Christologies, ed. Jose Moiguez Bonino, trans. Robert R. Barr (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1984). Hlm. 137-161.

Jumat, 14 November 2008

Yesus: Seorang Asia?

Vico SJ

Penyebaran kekristenan tidak hanya di sekitar daerah Barat dan Timur, yaitu di daerah Kekaisaran Romawi dan Konstantinopel, melainkan juga di daerah lain seperti di India—diyakini oleh St. Thomas dan di Siria. Dalam jaman modern Yesus telah dibawa oleh para misionaris Barat ke Asia sehingga Yesus nampak kebarat-baratan. Meskipun mendapat tanggapan negatif dari kaum pemikir dan spiritual elit negara-negara seperti India, Cina dan Jepang, pada abad ke-19, abad dimana koloni-koloni menjadi lebih stabil, kekristenan lebih sering berinteraksi dengan budaya dan agama setempat, khususnya di India. Namun, di Cina dan di Jepang, kekristenan nampak menghadapi kesulitan. Di Negara seperti India, Yesus banyak diterima oleh mereka sebagai guru. Oleh para Uskup di Asia pada sinode khusus Asia (1998), Yesus digambarkan sebagai: "Guru Kebijaksanaan, Penyembuh, Pembebas, Penuntun Kerohanian, Orang yang Tercerahkan, Sahabat yang berbelas kasih pada yang Miskin, Samaria yang baik hati, Gembala yang baik, Orang yang Patuh.". Namun, tetap ada semacam ketegangan antara Yesus yang digambarkan dengan berbagai amcam symbol dan gambar dengan Yesus menurut formula dogmatis di kalangan umat Gereja.

Peran Gambar-gambar
Lalu, apa peran gambar-gambar dalam iman dan kehidupan Kekristenan? Amalados menjawab bahwa gambaran-gambaran mengenai Yesus muncul dalam konteks dialektis antara pribadi dan kehidupan Yesus dengan pribadi dan kehidupan para murid-Nya. Namun, simbol dan gambaran mengenai Yesus tidaklah eksklusif atau monopolistik, melainkan terbuka, banyak dan saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, semua itu tidak mungkin ditangkap semuanya oleh setiap orang. Setiap orang hanya menghayatinya berdasarkan sejarah,, budaya, pengalaman dan alsan pribadi sehingga tidak mencukupi untuk mengungkapkan relaitas secara penuh tentang Yesus.
Orang-orang yang mempunyai kerangka pikiran ontologis akan gerah dengan macam-amcam gambaran tentangt Yesus. Mereka akan berbicara dalam kemutlakan dan melihat gambaran-gambaran tentang Yesus sebagai relatif.
Di sini ada tiga gambaran mengenai Yesus sebagai nabi, orang bijaksana dan sebagai guru. Sebagai nabi, Yesus nampak digambarkan lebih dari sekedar nabi karena ia melampaui para nabi. Di sini nampak ada usaha membandingkan Yesus dengan nabi-nabi lain, seperti misal Nabi Muhammad yang diakui dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi terakhir. Padahal bukan karena ada dimensi kenabian dalam diriNya, melainkan karena keunikan dan kekhususan yang Ia miliki. Jadi bukan karena ia begitu atau begini, melainkan karena Ia adalah Ia.
Sebagai orang bijak, ada usaha untuk mensejajarkan Yesus dengan Confucius dan Tao dari Cina. Namun, poinnya adalah bukan karena Ia dibandingkan dengan tokoh Cina tersebut, melainkan perkataan, perbuatan dan hidupNya, mencerminkan sebagai Jalan sama seperti jalan menuju Tao. Jadi justru Yesus memberi sebuah makna khusus pada istilah Tao.
Sebagai guru, Yesus digambarkan sama seperti guru-guru lain di India. Namun, di sini bukan karena ia seperti guru-guru yang lain, melainkan istilah guru yang dikenakan pada Yesus membantu kita untuk memahami beberapa aspek siapa Yesus itu dan apa yang dilakukanNya. Kehidupan dan ajaran-ajaran yesus sendirilah yang justru menunjukkan macam guru apakah Dia. Ini dapat diperoleh tanpa belajar komparatif.

Gambar-gambar dan Dogma
Yesus adalah unik. Banyak bahasa simbol dan gambar dikenakan padaNya. Sayangnya, bahasa ini tidak konseptual dan logis. Namun, bahasa ini bisa menjadi sistematik. Jika tak ada satu bahasa apa pun yang mampu mengungkapkan misteri Ilahi dalam diri Yesus yang sesungguhnya, tidak bisa saja mengadili atau menuduh bahwa abhasa simbol atau gamabr itu salah karena tidak konseptual dan logis. Seebnarnya, simbol hanya berguna sejauh membantu kita memahami realitas yang lebih dalam dari realitas transenden yang disimbolkan. Namun, bila kita memutlakkannya, ia akan menjadi sebuah idola bukan lagi sebagai sebuah ikon yang menuntun kita pada kontemplasi tentang misteri.
Memang afirmasi dogmatis benar. Namun, tidak mengungkapkan secara penuh kebenaran. Ungkapan dogma-dogma itu dibatasi oleh situasi saat itu dibuat, kapasitas dan pencerahan yang dialami para pembuatnya dan peralatan konsep yang menjadi tujuan mereka. Sedagkan gambar dan simbol berbeda. Mereka berakar pada iman. Oleh karena itu, mereka pra-teologis. Mereka dapat memberikan perkembangan baru dalam refleksi teologis. Mereka tidak bisa dituduh begitu saja dengan membandingkannya dengan formula teologis. Mereka harus dihargai pada apa yang mereka katakan, bukan pada apa yang tidak mereka katakan.
Seringkali pula terucap bahwa seseorang tidak dapat bicara tentang siapa Yesus itu tanpa mengatakan apa yang Dia lakukan, yaitu apa yang Dia selamatkan.Keselamatan yang Yesus tawarkan bukan membebaskan kita dari pergularan dan usaha yang harus kita lakukan da;am hidup kita untuk hidup sebagai manusi yang telah diselamatkan. Yesus memberi kekuatan kepada kita unutk hidup sebagai murid-muridNya dalam hidup ini. Proses keselamatan yang diklaim para teolog untuk digali dapat dilihat dari pandangan dalam gambaran-gambaran. Mereka membantu kita untuk hidup.

Gambaran Asia
Menurut Amalados, budaya dan agama Asia bukanlah barang baru baginya karena mereka merupakan warisan dari para leluhurnya. Oleh karena itu, penggunaan hak istilah 'guru ' pada Yesus bukanlah milik agama tertentu—Hindu---melainkan milik India secara umum. Jadi simbolbudaya bisa menajdi milik siapa saja yang menghendaki. Setiap istilah atau simbol yang dikenakan kepada Yesus mempunyai makna yang baru. Namun, tetap ada ketakutan bahwa Yesus hanyalah guru sama seperti guru-guru yang lain yang merupakan manusia-manusia terbatas. Tidak, istilah guru justru mengacu pada salah satu dimensi khusus dari Yesus.
Amalados tidak setuju jika Yesus disamakan seperti Adipurusha-pribadi pertama dalam agama Hindu yang punya peran khusus dalam pencitptaan dan itu sangat tidak cocok dengan Yesus. Namun, kita tidak bisa menghindari adanya konteks antarbudaya dan antarreligi yang menghasilkan tentu saja perspektif komparatif. Oleh karena itu, Amalados lebih suka menggunakan bahasa, budaya, simbol, dan gambarannya sendiri untuk berbicara tentang Yesus. Sebagai seorang Indian dan Asia, ia merasa bahwa Yesus adalah guru dan orang bijaksana.
Usaha-usahanya nampak mendapat penilaian dari gamabran Yesus dalam Perjanjian Baru dan Sejarah Gereja yang tertuang dalam dogma-dogma Gereja. Namun, mereka tidak bisa mengatakan bahwa semua orang Kristen dapat berkata-kata tentang Yesus untuk membuatny abermakna pada dirinya sendiri dan orang lain dalam konteks budaya dan keagamaan. Gamabran tidak menyangkal dogma, melainkan melengkapinya satu pada yang lain. Mereka membawa perspektif baru bahwa Yesus masih relevan pada zaman sekarang. Jadi, simbol berfokus pada apa yang Yesus lakukan.
Demikian pula Injil. Mereka menggunakan gambaran mereka sendiri tentang Yesus. Ada sebenarnya cerita sederhana tentang Yesus, tindakan-tindakan dan ajaran-ajaranNya yang membuat Amalados tidak perlu lagi menceritakan ulang kisah tersebut. Baginya, para pemeluk agama lain yang tidak asing lagi dengan pribadi Yesus dan kehidupannya boleh dengan keinginannya memahami Yesus secara lebih mendalam dari konteks religius mereka sendiri.

Sejarah Di Dalam Norma Kristus Raja

Oleh Vico SJ

Titik sentral dari sejarah adalah Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia. Yesus telah digambarkan dalam realitas historisnya, dalam gerakan di mana ia melibatkan sandaran sejarah dalam diriNya sebagai perkiraan yang perlu bagi eksistensi historisnya sendiri, dan akhirnya dalam kualitasnya sebagai norma dari sandaran sejarah. (the rest of history). Sejarah, sejauh seperti menemukan pembenarannya dalam Yesus, berdiri melawanNya sebagai sebuah subjek yang membedakan dri dariNya: individual, subjek personal; subjek kolektif—Gereja, dan akhirnya sejarah dunia sebagai sebuah keseluruhan. Tetapi, jelaslah bahwa tidak ada pemisahan atau perlawanan yang utuh. Orang-orang beriman, Gereja hidup dari kehidupan Tuhan mereka. Iman, harapan dan kasih adalah hidup Kristus yang menjelma dalam anggota-anggotanya. Gereja sebagai sebuah keseluruhan tidak direncanakan melawanNya sebagai subjek lain, dia adalah tubuhNya, dijiwai dan diatur oleh Roh-Nya. Begitu juga seluruh sejarah ras umat manusia yang diubah ke dalam seluruh kodratnya oleh kesatuan hypostatic, tidak dapat berdiri bertentangan denagn Kristus sebagai berdiri sendiri dariNya.
Namun, penyelesaian makna sejarah dalam Kristus tidak dapat dipahami walau kodrat yang tercipta tidak mempunyai di dalamnya makna imanen, inteligibilitas, eidos, dari dirinya sendiri, tetapi hanya di dalam Krsitus. Kecuali peristiwa Inkarnasi melibatkan penerimaan sebuah hakikat imanen yang dikover dengan tindakan penciptaan dan tidak mampu disesatkan atau dihilangkan, mungkin tidak ada inkarnasi yang sesungguhnya, tidak ada kemungkinan Allah menjadi manusia dan menjadi sejarah.
Ketika Putra Raja akhirnya muncul, yang didahului oleh banyak pembawa pesan dan hamba yang mengumumkan dan menyiapkan kedatanganNya, dia terikat, sesuai dengan tingkat kerajaanNya, untuk memperlihatkan diriNya sendiri semua perbedaan dalam mengemban dan bersikap dari pendahulunya. Di sini Kristus tidak perlu memisahkan diriNya; kualitas jarak adalah sesuatu yang merupakan milikNya dan mengiringiNya. Dia bersikap cukup berbeda dari para pejabat; dia mempunyai cara meninggalkan mereka secara ramah yang mengagumkan, dimana mereka mempunyai fungsi-fungsi yang cukup terpercaya, dia sendiri hanya mengerjakan hal yang megah dimana dirinya sendiri adalah seorang pribadi.
Tindakan dalam pesta, peristiwa ajaib di tengahnya, tergantung secara sederhana dan semata-mata pada penampilannya dan karakter wibawa dari seorang Raja. Tak seorang pun dapat memperkirakan bagaimana ia akan bertindak. Dia sendiri adalah etiketnya sendiri. Dalam apa yang dia kerjakan dan tidak dia kerjakan, dia adalah tetap seorang Raja, di sinilah pikiran dan tindakan-tindakannya takterprediksi bagi siapa pun. Namun, sekali mereka (tindakan-tindakan itu) dikerjakan mereka mempunyai kekuatan untuk menempelkan tanda gambaran mereka pada yang lain.


Ketegangan dalam Eidos dan Keadaan Hidup dalam Gereja
Garis ciptaan dari para anggota diberi tekanan khusus oleh ada-an mereka yang dinaikkan oleh keilahian kepala (lihat John 3:31-32):
“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya”
Karakter manusia “di bawah” yang kemudian ditinggikan dan sitekankan membutuhkan pengingkaran diri untuk membawa kesaksian dan membiarkan eidos-nya ditaril pada pengalaman kepala yang transenden. Hasilnya adalah sebuah metamorfosa dalam eidos sendiri, yaitu pertama, eidos yang masih di dunia tetapi dengan sebuah hubungan pada makna akhir yang ada dalam Kristus. Kedua, eidos yang ditinggikan dan diubah kedalam keunikan.
Jadi sejalan dengan Kristus sendiri, semua benda di dunia ini dibuat secara keseluruhan sebuah funhsi keunikan. Dalam hal ini tidak dapat direduksi tetapi harus digambarkan dalam struktur Gereja Krsitus yang nampak: sebagai “keadan religius” Kristen dan “keadaan dunia” kristen. Keduanya saling tergantung, yaitu saling hadir bagi yang lain dan dengan yang lain, masing-masing melibatkan makna yang lain dalam kasih Kristus, walau mereka tidak identik.
Relasi mutual ini perlu diperhatikan hasilnya sejauh dibuat niscaya secara mutlak oleh sebuah teologi sejarah. Eksistensi kekristenan dan kesejarahan kita dapat dianalisa dalam dua pola, yaitu pertama, sebagai eksistensi “election” (pilihan), yaitu memasrahkan eidos kita pada tanan Krsitus yang mampu mengubah dan menerimanya kembali dalam bentukmisi kita dan tugas-tugas untuk kerajaan Allah di dunia ini. Kedua, eksistensi yang sadar akan keterciptaan eidosnya, tetapi membiarkan dibentuk pada pemenuhan dalam Kristus. Namun, keduanya tidak boleh menyebabkan sebuah keterpisahan atau sebuah pembagian dalam kesatuan eksistensi kekristenan dalam iman, harapan, dan kasih. Jadi, bentuk roh adikodrati harus menjiwai keadaan dunia (1 Kor 7:29-31). Dua keadaan tersebut secara niscaya dalam kesatuan eksistensial dengan yang lain juga. Mereka adalah subjek huibungan anggota dari Pauline dengan fungsi berbeda dan karena anggota adalah pribadi-pribadi, mereka berpartisipasi juga dalam hukum surgawi

Eidos dalam Transendensi: Suatu Keadaan Religius
Aspek transenden yang terungkap dalam adalah, pertama, tindakan dasar kekristenan dari iman, kasih dan harapan (the fundamental Christian act of faith, lve, and hope), kedua, dalam Gereja oleh “ the state of Christian Perfection “ (keadaan kesempurnaan kekristenana). Kodrat manusia disentuh oleh rahmat Krsitus dalam keunikannya dan dibebaskan --dari dosa dan kondisi kedosaan manusia dalam lingkaran hidup dan mati –ke dalam panggilan kemuridan disatukan sebagai murid dan pengantara dalam persatuannmisteri Kristus: Salib dan Kebangkitan. Maka, manusia harus mengesampingkan bentuk eksistensi mereka dengan mengikuti jejak Kristus, hidup seperti Dia dalam jamannya, yaitu terbuka, mempercayai, tanpa kekawatiran, tanpa rencana, tanap melakukan antisipasi kehendak Allah, tetapi mempercayai, bekerja dan mengasihi Allah dan manusia. Hidup dalam jaman kita, harus berjaga-jaga, membaca tanda-tanda jaman dan pesan-pesan mereka, menerima isi dan makna hidupnya, tepatnya menerima jamannya sebagai anugerah Allah. Oleh karena itu, manusia tahu bahwa konteks satu-satunya adalah bahwa patahnya keberadaan manusia terbuka terhadap Allah, yaitu dengan iman dan doa. Hanya dengan sikap demikian misi dipercayakan, dan dengan demikian rahmat misi menyediakan makna yang penuh dan melimpah bagi setiap penggantian “historical Now”.
Keterbukaan inilah yang membuat kekristenan tetap hidup. Dengan demikian kekristenan mampu menerima kebenaran yang baru dari Allah tanpa dibatasi oleh pola dan prasangka, spiritual dan keduniawian yang merupakan produk masa lalu dan yang walau dibenarkan kemudian, tidak tepat dalam bentuk yang sama dalam zaman ini. Relasi Gereja dan kekristenan dengan dijiwai hidup Sang Putera harus menyerupai relasi Anak dengan Kehendak Bapa,yaitu dalam salah satu konsepsi dan kefemininitasan. Penaburan benih Allah dalam rahim dunia adalah apa yang terjadi dalam ruang sejarah yang terdalam. Tetapi, ‘ngemong’ dan mempercayai menembpati penyerahan diri yang rapuh. Melimpahnya setiap macam perhitungan adalah sebuah gambaran yang esensial dari kepenuhan waktu (the fullness of time). Di pusat alam maskulin terdapat sebuah misteri feminini yang tersembunyi yang bahkan kebijaksanaan dunia ini selalu dikenal sebagai “inspiration” oleh Roh Ilahi yang ada dalam isi hati. Pikiran manusia dapat hanya mengalami di hati budi bahwa terletak misteri kepengantinan.
Pada tingkat kodrat, misteri ini menampakkan sebagai a privilege peculiar (sebuah keistimewaan yang khusus) seperti nampak pada seniman-seniman. Privilise khusus ini dipenuhi oleh kehadiran adikodrati, karen apersatuan tubuh kemanusiaan dengan Allah yang menghadirkannya telah digambarkan pada kita dalam istilah “eros” sebagai pemenuhan dari apa yang nampak dari nyantian telah merauakan lama sebelumnya, yakni eksistensi sebagai sebuah keadaan menikah. Gereja danjiwa tidak dapat melakukan apa pun tetapu menunggunya adlam keterbuakaan dan kesiapsediaan feminin. Keadaan yang tidak mengetahui inilah yang merupakan dasar yang perlu bagi apa pun yang dapat menghargai nama gnosis atau pengetahuan kristen.
Isteri dalam realsi isteri dan suami merupakan tubuh perlindungan dan rahi bagi laki-laki secara fisik. Sedangkan suami merupakan rahim dari kerohanian isterinya siemana itu tunggal dan mengembangkan gambaran dari hakekatnya yang sebenarnya. Demikian pula kekeristenan dan Gereja mencapai hakekat sejati mereka, eidos mereka yang sudah ada dalam Kristus sebagai Sang Pengantin Pria, sejauh mereka menerima dan menjaga dalam hati mereka kehendak Bapa, benih dari Sabda Inkarnasi. Benih rahmat meruoakan benih misi dan merupakan benih formasi dan perkembangan. Hanya dalam konteks diutus dalam sebuah misi, setuap peristiwa dapat akhirnya dimatangkan dalam sebuah kemiripan yang utuh antara apa yang dikehendaki dari kita dan apa yang kita atur untuk dilakukan. Kegiatan menyetujui apa yang Allah kehendaki bagi sejarah dunia merupakan inti yang membuat sejarah terjadi.
Ketersembunyian kebenaran yang paling dalam ini bagaimana pun juga tidak tanpa kesaksian yang nyata. Semakin manusia berusaha menggantikan atau menyatukan rahmat eidosnya dengan beberapa eidos yang diciptakan atau ditemukan oleh dirinya sendiri, orang yang lemah, pucat dan banyak hal negatif menjadi apa yang dia buat bagi hidupnya. Sedikitnya apa yang membentuk di dunia ini bertumbuh dari pola dasar dari Yesus Kristus, semakin hal itu terdiri dari “kayu, rumput kering, dan jerami, yang akan dihancurkan dalam pengadilan eskatologis (1 Kor 3:12-13). Mengingat semakin seorang manusia menyerahkan diri kepada Allah, semakin kurang dia mengantisipasi dirinya sendiri, yang dalam kenyataan, dia hidup in time (dalam jamannya),semakin tepat gambaran-gambaran yang eksistensinya dia bawa dalam jamannya, gambaran-gambaran tersebut begitu memuaskan, begitu kaya dalam kekuatan simbol bahwa mereka melampaui segala sesuatu yang dapat dihasilkan oleh pembentukan dan pengembangan diri. Jadi, tak ada sesuatu pun dalam segala bidang sejarah yang lebih valid dari pada seluruh pola kehidupan Maria: pertemuannya dengan malaikat, pertunangannya dengan Yosef, kelahiran, kepergian, kehidupan yang tersembunyi, Kana, penolakan, salib dan turunnya dari salib, paskah dan pentakosta, kehidupan tersembunyi bersama Yohanes. Masing-masing situasi ini adalah sejarah pada pemenuhannya yang paling penuh. Setiap gamabran di atas adalah cerminan dari totalitas pribadi yang terpenuhi dari kehidupannya sendiri. Tugasnya secara sederhana penyerahan total. Tetapi bahwa persembahannya kemudian terukti menjadi satu dan satu-satunya bahan berharga yang dibentuk oleh tangan Allah menjadi sebuah bentuk yang melampaui segala macam pengambaran.
Penyerahan Maria, yang terindikasi di sini sebagai contoh utama yang ada dari Kristen sejati dan sikap manusia di hadapan Allah, adalah tanpa sebuah jejak kepasifan atau pasrah belaka. Sebaliknya, penyerahan Maria mengundang partisipasi aktif kekuatan manusia yang tersatukan, sebuah usaha penuh hati untuk membuang segalas sesuatu yang dapat meracuni kemurnian dari penerima pertama pesan dan substansi ilahi, dan kemudian menghidupinya. Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang bertekun dalam usaha ini sampai akhir. Yohanes tak henti-hentinya berbicara tentang “abiding” suatu kekekalan, tak kunjung padam baik dalam kesabaran, tak tergoncangkan oleh hasrat ketidaksabaran karena tindakan atau penderitaan yang lain, tidak terganggunya dengan semua hal yang tidak tertanggungkan dimana dunia sedemikian adanya, dan hanya ditinggikan, dikuatkan, dan dikeraskan oleh harapan doa yang tidak sabar: “Datanglah cepat!” (Why 22:20); sebuah “abiding” yang melibatkan segala kekuatan kreatif unik manusia: kekuatannya untuk menghasilkan, untuk menciptakan, kegeniusan dalam teknik dan seni. Ketekunan eskatologis inilah yang memberi umat manusia tanda dan bentuk ciptaannya. Di sinilah pola dari segala sesuatu yang harus mengorganisasikan kehidupan setiap orang beriman, yang perlu untuk diungkapkan dalam “ keadaan rohani” dalam Gereja. Mereka yang menarik diri sampai ke ketinggian untuk berpuasa dan berdoa adalah pilar yang membawa bobot rohani dari apa yang terjadi dalam sejarah. Mereka berbagi dalam keunikan Kristus, dalam kebebasan bahwa kaum bangsawan yang dilindungi dari atas; yang tenang, kebebasan yang belum dibelenggu yang tak dapat dikurung dan digunakan begitu saja. bagaimanapun para asketis Kristen bergandengan tangan dengan Kristen yang tugasnya membangun dunia. Untuk apakah berdoa atau bertindak dia dikirim bersama Krsitus ke dunia dan dia ada di jalannya yang terikat dalam misinya. Inilah yang membedakan dia secara radikal dari mistik dan rahib agama-agama Asia yang memutar kembali dirinya ke sejarah.
Sebuah kepemilikan sampai akhir (a longing for the end), kepemilikan eskatologis (eschatological longing) akan berubah pada kemalasan, jika kepemilikan tersebut tidak memposisikan dirinya dibawah semua energi kerja manusia, semua rencananya dan rancangannya—seperti mistisisme pasif menjadi quietisme jika tidak membuktikan dirinya dalam tindakan, dan jika tidak, sesungguhnya memperoleh kekuatan-kekuatan aktif dalam pelayanan penyerahan diri pasif. Puncak sejarah yang di dalam Kerajaan Kristus, memuncak mengatasi semua situasi umat manusia adalah penting berlanjut dengan pendasarannya, yang menutupi keluasan yang penuh dari semua situasi-situasi tersebut, dengan segala faktor historis, sosiologis, dan psikologis yang mendasari mereka. Makna sejarah harus muncul dari kesatuan apa yang Allah tentukan untuknya dengan garis perkembangan interiornya sendiri. Makna sejarah yang imanen tersebut, diturunkan dari kodrat yang tercipta dan tak dapat dipisahkan darinya, sekarang mengundang ujian. Setelah itu, kita mesti membawanya ke dalam sebuah kesatuan tunggal dengan makna pola adikodrati.

Eidos dalam Imanensi:
Suatu Keadaan Awam; Kemajuan, Vertikal dan Horisontal
Struktur hakiki dari keberadaan manusia adalah digambarkan oleh Plato sebagai sebuah tegangan antara latar belakang keabadian dan latar depan kefanaan, mengingat titk tolak dari eksistensi kita dalam waktu melibatkan sebuah keterasingan dari sumber kita dan sebuah usaha melupakan dari latar belakang kita yang sejati, jalan bahwa eksistensi seharusnya terdiri dalam pembentukan ke dalam dan sebuah hasrat menaiki tanah dan sumber mengada-nya kita. Di sisi lain, Aristoteles memasukkan cerita mythico-historis tentang segala sesuatu ke dalam tegangan ontologis antara dynamis dan energeia. Keduanya berusaha memperlihatkan bahwa eksistensi tidak dapat ditafsirkan terpisah dari beberapa konsep kemajuan. Plato menggunakan kemajuan duniawi mulai dari rumah surgawi, asal kita, tetapi kemudian tidak meninggalkan satu ruangpun bagi “evolusi”; sementara Aristoteles berpegang kuat pada gagasan evolusi dalam tegangan komplek antara potensi dan aktus ke dalam mana mereka muncul, tetapi kemudian pergi dari teka-teki yang terdapat di dalam titik tolaknya.
Tidaklah mungkin untuk tidak mengambil jalan pada konsep kemajuan ketika berusaha untuk menafsirkan struktur historis temporal yang disebut “manusia”; segalanya bahwa bahkan mereka yang paling anti-kemajuan dalam penafsiran mengambil apa yang orang0orang Yunani dan setelah mereka adalah kaum idealis, melihat sebagai sebuah “proses” aktualisasi dan kemudian menerobos dan meradikalkannya ke dalam sebuah “ lompatan/langkah”, sebuah “keputusan”; keluar dari kemungkinan (=aesthetic) ke dalam kenyataan (=ethical) dengan Kierkegaard; atau keluar dari ketidakrealitasannya pelupaan Platonis ke dalam realitas keterbukaan menuju yang ada, dengan Heidegger. Tetapi selalu ada sebuah langkah, sebuah gerakan maju: makna, “sense”, terdiri dari perjalanan, berjuang untuk, seperti waktu “bergerak menurut jalan jam” sama seperti tangan yang bergerak. Satu-satunya pertanyaan adalah apa itu penginderaan atas segala sesuatu yang menghasilkan pengalaman kepada kita? Jalannya terbatas; apakah jalan ini hanya memimpin ke kematian? Dan jika makna harus takdibatasi, bagaimana jalan itu mengandung jalan yang terbatas? Makna yang terletak dalam pergerakan waktu masih meninggalkan ambiguitas.
Ambiguitas ini dalam makna kemajuan menghalangi perkembangan dalam pemikiran pra-Kristen tentang penafsiran sejarah yang cermat menurut kategori proses. Dasar gagasan Platonis tentang hubungan antara jatuhnya manusia dari dan kembali ke asalnya adalah lebih mendekati sebuah kata rekaan tentang penafsiran umum tentang mistis, politis, dan religius terhadap perkembangan kebudayaan yang lebih awal. Sebuah pergerakan kemajuan dari bumi ke langit, dari pokok permasalahan kematian menuju ke pertalian dengan dewa-dewa; menciptakan gambaran manusia sebagai orang yang beralih dari horisontal, tingkat binatang ke dunia yang sangat halus di atas: merupakan pengalaman dasar dari kebudayaan yang tinggi selama dua atau tiga milenium sebelum Kristus. Kemenangan duniawi dan pencapaian direkam hanya sebagai konfirmasi dari kemurahan Ilahi.
Pengalaman biblis memiliki konteks periode penentuan ini, pemecahan atau penemuan yang tak dapat kembali dalam jalan alami sejarah: jaspers menyebutnya momen aksial dalam sejarah dunia, karena segala sesuatu sebelumnya terletak di bawah horison pemecahan tersebut, dan segala sesuatu yang mengikuti adalah sebuah konsekuensi darinya yang sederhana. Namun, pengalaman biblis merupakan yang pertama kali membelokkan penafsiran vertikal sehingga nampak bertepatan dengan horisontal. Allah ditunggu dalam sejarah. Dia akan datang dan mengadili bumi dan segala yang ambigu akan menjadi jelas. Dynamis-nya orang Yahudi diarahkan ke sebuah masa depan yang mengandung kemutlakan, dan dalam segala usaha mereka, bahkan setelah Kristus, ada sesuatu yang merupakan karakter absolut.
Dalam periode waktu yang sangat pendek, Yahweh telah membangkitkan umatNya, Israel dari tingkat standard mitos Ketimuran ke tingkat tertinggi dari semua konsep-konsep universal, inkarnasi Putera Allah. Satu hal yang menjadi fokus mereka adalah satu hal yang unik yang mengubah mereka seluruhnya. Israel tidak menaiki tangga kemajuannya sendiri, ia ditarik ke atas dengan bertentangan dengan kehendaknya, oleh rambut kepalanya, berjuang lebih dan lebih keras. Di setiap langkah ia kehilangan sesuatu pada Allah, sampai pada akhirnya ia kehilangan seluruh substansinya, untuk memasuki tanah terjanji Kristus yang sejati hanya sebagai seorang “sisa bekas”. Kristus sebagai Yang Terpilih secara unik oleh Bapa, membawa beban penolakan manusia bahwa dia sekali lagi membalikkan jalan atau arah, membuang jelaga untuk kebaikan dan semua, dan membebaskan pertama kali mereka yang tidak terpilih, bangsa kaum pagan, kaum kafir, dan kemudian secara eskatologis yang terpilih pertama, persediaan kudus juga.
tahap Perjanjian Lama, yang dari iman Abraham melalui Hukum yang diberikan ke pada orang oleh Musa, kepada pengadilan yang berkarisma dan Raja dan Nabi, merupakan tahap dimana wahyu diiternalisasikan dan ditubuhkan ke dalam manusia. Dan sebagai Allah masuk lebih jauh lagi dan jauh bersama manusia, manusia yang dipaksa oleh rahmat untuk memenuhi dan bersatu ke dalam diri sendiri yang kebenaran utama yang tela tertulis ke dalam sejarah orang Israel. Namun, dosa yang mulai sebagai sebuah pelanggaran eksternal, yang dapat secara legal disingkirkan, menjadi sebuah pengalaman perubahan batin bukan kepalang yang pada pokoknya hanya “ Hamba Allah” yang dapat bertobat.
Gambaran tentang Hamba, gambaran tentang Yang Tersalib siap mulai nampak. Dari puncak jaman kenabian, seseorang dapat melihat ke belakang di saat orang-orang mengambil kepemilikan atas tanah terjanji: melihat ke belakang di saat: hari masa mudanya” (Hos 2:15), ketika “Israel masih seorang anak kecil” (Ps 78, 105, 106), tetapi melihat juga dosa-dosa masa lalu. Tahap demi tahap orang-orang kudus telah menyusuri jalan perziarahan yang memimpin ke arah Kota Kudus, diiringi musik dari beberapa mazmur, dipimpin oleh Roh Kudus melalui pengalaman temporal, historis, manusia untuk menemukan diri mereka sendiri di akhir jalan di mana mendekati akhir, mendirkan Qumran, jalan yang membawa pada Elizabet dan Yohanes, kepada Yosef dan Maria dan anaknya.
Sejarah Israel adalah unik karena merupakan pra-historis Kristus yang unik. Kristus membutuhkan pra-historis ini untuk menjadi sejarah yang sesungguhnya. Tetapi Dia dapat hanya menyatukan sejarah ke dalam eksistensiNya sendiri sejauh sejarah itu pada hakikatnya merpakan sejarah yang suci-bagaimanapun juga banyak pendosa telah termasuk di dalamya. Karena Dia baik Allah dan manusia, bukti dari misi keilahiannya harus horisontal dan vertikal. Menjadi seorang Yahudi, putera Abraham, membawa dampak secara logisnya, membuat lompatan ke Kristus. Janji dan pemenuhan membentuk sebuah sejarah diptych yang terbuka pada macam-macam orang untuk membaca dan membandingkan, dan mengandung dua unsur dasar dalam keseluruhan. Sejarah: yang Goethe sebut” Polarity” (polaritas) dan “ascent” (kenaikan). Sebuah polaritas dalam dunia ini dan apda sat ayng sana sebuah terjal naik dari dunia ke Allah ; tetapi kenaikan ini oleh seni dari dunia arsitek, yang terbentang di hadapan kita dalam bentuk sejarah.


Sejarah Suci dalam Sejarah Sekular
Sejarah singkat Israel adalah sebuah sejarah yang dua kali lipat sepanjang beberapa abadnya. Ada perkembangan sekular di mana orang-orang ini melewati bersama mereka the ascent (pendakian/kenaikan) dari masa mitos, pertama ke dalam Yunani, kemudian ke dalam dunia rasio universal Helenis. Namun, ada perbedaan yang besar yang lebih tidak terduga yang mengantar kepada keunikan Kristus. Namun, jika kita berbicara tentang kedatangan Kristus sebagai “Pemenuhan waktu” dalam skema sejarah suci, sebuah kesulitan akan muncul, yang penuh dengan makna bagi para teolog: apakah bahwa sejarah lain, sejarah sekular yang berlangsung di bawah sejarah suci Israel, membawa beberapa hubungan secara tepat sebagai sejarah pada “Pemenuhan Waktu”? Beberapa teolog Protestant telah berusaha keras memulihkan kembali transendensitas dari peristiwa Inkarnasi dengan melepaskannya dari semua ketergantungan dengan sejarah historis kepada keutuhan keagungan dan keaslian biblis.
Ada sebuah perbedaan konsep dalam relasi antara sejarah sekular dan suci. Namun bukan itu persoalannya, persoalannya adalah bahwa ada sebuah pernyataan tegas yang teologis dan biblis, yakni tentang “pendidikan umat manusia” dimana Allah mengerjakan terutama dalam kasus Israel, untuk semua keunikan yang ada, menggunakan evolusi sebagai sebuah vehicle (kendaraan)—secara literalnya sebagai sesuatu yang sudah ada dalam gerakan dan di jalannya—dalam kerangka untuk memperoleh keseluruhan tujuannya sendiri yang berbeda. Poinnya adalah bahwa kemajuan pewahyuan sungguh terdiri dalam sebuah pemberian Allah yang lebih dalam dan semakin membatin, yang selalu hadir, sekali dan untuk selamanya, sehingga manusialah yang lebih bergerak dari pada Allah.
Semakin terang menyinari Israel dan semakin tangan judgment surgawi memberatkannya, semakin secara mendalam dia menjadi sadar atas fungsi pengalamannya belaka di antara bangsa-bangsa: diadili dan memperoleh keselamatan bagi Israel adalah sebuah kesatuan dialektikal. Lalu bagaimana dengan bangsa lain? Bukankah mereka juga bisa mengenali jejak mereka bahwa mereka pun berasal dari keturunan Abraham?Dan oleh karena itu, bukankah sejarah bangsa-bangsa merupakan sebuah sejarah keluarga? Dan bukanlah mereka mengada berdampingan? Dan hal ini tidak hanya berlaku pada individu-indiviu sebagai pribadi-pribadi, tetapi berlaku kepada bangsa-bangsa yang dari Kejadian sampai dengan wahyu mengada sebagai entitas tertentu dalam kaitan dengan peristiwa keselamatan.Oleh karena itu apa yang dapat kita lakukan adalah menyatakan bahwa kairos inkarnasi, yang merupakan pemenuhan jaman sebagai tujuan sejarah Israel, adalah kairos tidak hanya bagi Israel melainkan juga bagi segala bangsa dan bahwa Israel di sini berperan sebagai sebuah penjamin utama sejarah suci dan sekular yang tak terbagi hingga Pengadilan terakhir.

Kesempurnaan dan kemajuan
Masa kekristenan ditentukan oleh peristiwa yang adalah Kristus. Kesempurnaan telah dicapai. Iman berdiri penuh kekaguman di hadapan keajaiban, waktu nampak masih berdiri dan merupakan separuh jam keheningan surga. Seribu tahun dan lebih didedikasikan pada kontemplasi: Kristologi dan doktrin Trinitas yang memegang pikiran tentang iman dalam musim mereka. Apa yang Kristus bawa adalah kebenaran akhir. Kristus yang merupakan kepenuhan telah datang di akhir jaman sebelum perpindahan ke kehidupan abadi dan tentu saja segala hal yang telah hilang sebelum nampak, seperti seseorang melakukan gerak maju ke arahNya. Dalam City of God-nya Agustinus, perlawanan antara sejarah sekular dan suci datang ke dalam pembukaan sebuah momen, hanya untuk memberikan jalan sekali lagi pada harmoni dalam budaya monolithik Abad Pertengahan. Prahistoris awal dari manusia telah menganggap bagian-bagian besar yang dengan perbandingan, peristiwa Kristus muncul sebagai sebuah kesimpulan. Namun, sebaliknya sejarah hanya mulai berlangsung dengan terobosan yang timbul selama beberapa milenium terakhir sebelum Kristus; dan dalam terang itu, Kristus muncul, sebagai permulaan dan dasar dari pertempuran rohani dari keputusan yang memenuhi sejarah, mengingat sejarah singkat Israel nampak hampir tidak lebih dari sejarah keluarga dalam arti yang paling sempit.
Bagaimana pun juga, sementara daya dorong Yahudi mendorong ke arah masa depan umat manusia, menuju realisasi keajaiban mesianik dengan lompatannya dari alam keniscayaan masuk ke alam kebebasan, bagi Kekristenan, kebebasan itu sudah hadir. Kebebasan itu hadir dalam sebuah kesempurnaan yang tidak pernah dapat ditingkatkan hasilnya, dan kemajuan manusia dapat mulai sekarang hanya dalam referansi pada being-at-hand (parousia) dari Yang terakhir, Yang Absolut, puncak dari sejarah.
Kita hanya perlu membawa dalam pikiran kita bahwa kemajuan yang dilibatkan tidak lagi merupakan sebuah wahyu seperti dalam Perjanjian Lama. Namun kemudian, bermacam tahap terletak dalam garis lurus perkembangan logis menuju sebuah tujuan; sekarang, ketika kesempurnaan mutlak telah diberikan, semua penafsiran mengalir mengelilinginya dalam perputaran yang tak perna berhenti, bergerak secara bebas dan tanpa garis yang mendorong perkembangan. Kairoi yang dihasilkan di dalam Sejarah Gereja oleh Roh Kudus sungguh mengandung di dalamnya jawaban bagi beberapa persoalan yang menekan dalam sejarah sekular. Harta kebenaran Kristen yang tak ada habis-habisnya itu selalu di sana, selalu tersedia membantu bahwa penafsiran diri disituasikan secara hakiki melampui bidang kemajuan. Namun, Gereja tidak kembali kepada nasib umat manusia. Segala sesuatu tumbuh subur dalam perkembangan historis manusia akan potensialitasnya. Semua itu dihidupkan oleh kasih di mana segala sesuatu nampak tidak mungkin. Gereja merupakan anugerah utama Pencipta bagi sejarah umat manusia, diberikan kepadanya untuk membawanya pada realisasi dirinya.
Ketika Allah memilih untuk tidak menggunakan bahasa apa pun bagi pengungkapan diriNya secara penuh daripada manusia, Dia kemudian berbicara tidak pada satu orang saja, melainkan seluruh umat manusia. Pemenuhan sejarah Perjanjian Lama secara tidak langsung menyatakan segala cakupan, sesuatu yang karena itu selalu menjadi sebuah intensi, tujuan dari sejarah Perjanjian Lama. Karena Kristus segala sejarah pada dasarnya dikuduskan.
Jadi, hubungan dasar pertama ini sudah mengandung yang kedua, yaitu hubungan yang merupakan anchoring semua iman, Yahudi, dan para penyembah berhala dalam Abraham yang belum terikat oleh Hukum. Kenampakan sejarah keselamatan dibersihkan dengan kematian dan kebangkitanNya. Demikianlah hanya ada satu sejarah dan pemenuhannya baik imanen dan transenden dalam Kyrios. Sejarah sungguh mempunyai eidos imanennya sendiri, tetapi dalam proses turunnya ke neraka dan kemudian naik ke dalam surga dan duduk di sisi kanan Allah Bapa, Kristus telah menngangkatnya bersama-Nya dan hanya ada di sana bahwa sejarah dapat mencari dan memperbaikinya.


Sumber Acuan
Hans Urs Von Balthasar, A Theology of History, Chapter Four, New York: Sheed and Ward, 1963, p. 113—154.